Perseteruan kata-kata antara sineas Ashoke Pandit dan aktor senior Naseeruddin Shah kembali memanas. Pada 30 Oktober 2026, Pandit mengkritik keras Shah dalam pernyataan kepada kantor berita ANI, menyusul pernyataan Shah yang mendukung mahasiswa Jamia Millia Islamia yang sedang memprotes dan memakai label “Dimagi Naxal” dengan bangga. Kritik itu menambah panjang daftar perdebatan publik yang melibatkan Shah dalam beberapa bulan terakhir.
Polemik bermula dari sebuah video yang dibagikan Shah di Facebook. Dalam video itu, Shah menyatakan dukungannya kepada mahasiswa Jamia Millia Islamia yang memprotes pemulihan serikat mahasiswa di kampus mereka. Ia tampak memakai lencana bertuliskan “Dimagi Naxal”, sebuah label yang kerap dipakai untuk menyindir pihak yang dianggap berhaluan kiri secara intelektual. Shah mengaku bangga dengan label tersebut, mempertanyakan cara pemerintah pusat menangani protes mahasiswa, dan menyinggung label lain seperti “anti-national” dan “tukde tukde gang” yang menurutnya kerap dilemparkan kepada para pengkritik.
Pandit menanggapi video itu dengan nada yang sangat keras. Ia mengaku tidak terkejut dengan bahasa yang dipakai Shah, karena menurutnya Shah sudah berbulan-bulan, bahkan setahun terakhir, terus-menerus bersikap kasar. “Saya tidak terkejut, saya juga tidak heran dengan bahasa kasar Naseeruddin Shah, karena selama beberapa bulan terakhir, bahkan setahun, dia terus-menerus berperilaku buruk dan telah menjadi pelaku kekerasan verbal yang kompulsif,” ujar Pandit kepada ANI.
Pandit juga mengaitkan sikap Shah dengan dunia film. Menurutnya, bahasa tubuh dan ekspresi wajah Shah dalam video itu menunjukkan rasa frustrasi. Ia menilai frustrasi itu berkaitan dengan film-film yang sedang laris di bioskop, seperti The Kashmir Files, The Kerala Story, dan Dhurandhar, yang menurut Pandit tidak sesuai dengan selera Shah. “Mungkin salah satu alasan dia merasa tidak aman adalah film-film yang sedang laris itu tidak cocok untuknya,” kata Pandit. “Mereka menderita kompleks inferioritas. Dia harus berkonsultasi dengan psikiater karena ini memengaruhi kesehatan mentalnya. Orang normal tidak akan berperilaku seperti ini.”
Pernyataan itu bukan yang pertama dari Pandit terhadap Shah. Dalam pernyataan yang sama, Pandit kembali menegaskan pandangannya bahwa Shah tampak sangat frustrasi di depan kamera dan semakin terekspos dari hari ke hari. Kritik itu disampaikan dalam konteks yang lebih luas, yaitu perdebatan tentang kebebasan berekspresi, sikap selebritas terhadap protes mahasiswa, dan label-label politik yang beredar di ruang publik India.
Shah sendiri dikenal sebagai salah satu aktor paling dihormati di India, dengan karier panjang di film seni maupun film arus utama. Dalam beberapa waktu terakhir, ia juga tercatat mendukung mahasiswa di Satyajit Ray Film and Television Institute, sebuah sikap yang kembali menempatkannya di tengah perdebatan publik tentang peran seniman dalam isu sosial dan politik. Hingga berita ini ditulis, reaksi atas pernyataan terbaru Pandit masih terus bermunculan di media sosial dan media India.
Apa poin penting dari berita ini?
- Perseteruan kata-kata antara sineas Ashoke Pandit dan aktor senior Naseeruddin Shah kembali memanas.
- Pada 30 Oktober 2026, Pandit mengkritik keras Shah dalam pernyataan kepada kantor berita ANI, menyusul pernyataan Shah yang mendukung mahasiswa Jamia Millia Islamia yang sedang memprotes dan memakai label “Dimagi Naxal” dengan bangga.
- Polemik bermula dari sebuah video yang dibagikan Shah di Facebook.
- Dalam video itu, Shah menyatakan dukungannya kepada mahasiswa Jamia Millia Islamia yang memprotes pemulihan serikat mahasiswa di kampus mereka.
- Ia tampak memakai lencana bertuliskan “Dimagi Naxal”, sebuah label yang kerap dipakai untuk menyindir pihak yang dianggap berhaluan kiri secara intelektual.
- Pandit mengaku tidak terkejut dengan bahasa yang dipakai Shah, karena menurutnya Shah sudah berbulan-bulan, bahkan setahun terakhir, terus-menerus bersikap kasar.
- Pandit juga mengaitkan sikap Shah dengan dunia film.
- Ia menilai frustrasi itu berkaitan dengan film-film yang sedang laris di bioskop, seperti The Kashmir Files, The Kerala Story, dan Dhurandhar, yang menurut Pandit tidak sesuai dengan selera Shah.


