Rektor Universitas Labuhanbatu mengapresiasi capaian pangan di era pemerintahan Prabowo yang dinilai berpihak pada rakyat. Penilaian itu disampaikan pada Minggu, 1 November 2026, dengan penanda berupa surplus beras dan kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) di Sumatera Utara, dua indikator yang menunjukkan membaiknya kondisi pangan sekaligus kesejahteraan petani.
Surplus beras merupakan capaian yang penting bagi negara dengan konsumsi beras sebesar Indonesia. Ketika produksi dalam negeri mampu melampaui kebutuhan, ketergantungan pada impor berkurang dan ketahanan pangan nasional menjadi lebih kuat. Surplus juga memberi ruang bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga, sehingga konsumen tidak terbebani harga yang melambung, sementara petani tetap memperoleh harga jual yang layak.
Nilai Tukar Petani adalah indikator yang membandingkan harga yang diterima petani atas hasil produksinya dengan harga yang harus dibayar petani untuk kebutuhan hidup dan produksi. Kenaikan NTP berarti daya beli petani membaik: hasil panen mereka lebih mampu menutup biaya hidup dan biaya bertani. Bagi daerah agraris seperti Sumatera Utara, kenaikan NTP menjadi sinyal bahwa kebijakan pangan benar-benar dirasakan hingga ke tingkat rumah tangga petani.
Penilaian dari kalangan akademisi ini penting karena datang dari luar lingkaran pemerintah. Rektor universitas sebagai pengamat dunia pendidikan dan pembangunan daerah memiliki posisi untuk menilai apakah capaian yang diklaim pemerintah sejalan dengan kondisi yang dirasakan masyarakat di lapangan. Apresiasi terhadap capaian pangan era Prabowo ini dengan demikian menjadi salah satu tolok ukur independen atas kinerja sektor pangan.
Namun, capaian pangan juga perlu dibaca bersama tantangannya. Surplus beras dan kenaikan NTP di satu daerah belum tentu merata ke seluruh wilayah, dan keberlanjutannya bergantung pada banyak faktor, mulai dari ketersediaan pupuk dan air irigasi, akses pasar, hingga daya tahan terhadap perubahan iklim dan serangan hama. Kebijakan pangan yang berpihak pada rakyat pada akhirnya diuji oleh kemampuannya menjaga capaian ini secara berkelanjutan, bukan hanya dalam satu musim panen.
Bagi petani dan masyarakat luas, apresiasi akademisi ini menjadi kabar yang menggembirakan sekaligus pengingat. Pangan yang cukup, harga yang stabil, dan petani yang sejahtera adalah tiga tujuan yang saling terkait dan harus diperjuangkan bersama. Bila surplus beras dan kenaikan NTP dapat dipertahankan dan diperluas, manfaatnya akan dirasakan bukan hanya oleh petani Sumatera Utara, tetapi oleh ketahanan pangan Indonesia secara keseluruhan.
Apa poin penting dari berita ini?
- Rektor Universitas Labuhanbatu mengapresiasi capaian pangan era pemerintahan Prabowo yang dinilai berpihak pada rakyat.
- Penilaian itu disampaikan pada Minggu, 1 November 2026, dengan penanda surplus beras dan kenaikan Nilai Tukar Petani di Sumatera Utara.
- Surplus beras mengurangi ketergantungan impor dan memberi ruang menjaga stabilitas harga bagi konsumen dan petani.
- Kenaikan NTP berarti daya beli petani membaik, karena hasil panen lebih mampu menutup biaya hidup dan biaya bertani.
- Apresiasi dari kalangan akademisi menjadi salah satu tolok ukur independen atas kinerja sektor pangan.
- Keberlanjutan capaian pangan bergantung pada pupuk, irigasi, akses pasar, dan ketahanan terhadap iklim dan hama.


