Saturday, 31 October 2026
Horror

Viral Prank Filter Hantu ke Anak, Psikolog Ingatkan Orang Tua Agar Lebih Hati-hati

Ilustrasi filter wajah hantu di layar ponsel yang dipakai untuk mengerjai anak

Media sosial tengah diramaikan oleh konten orang tua yang menakut-nakuti anak menggunakan filter hantu. Dalam konten yang beredar, orang tua sengaja mengerjai anak ketika menggunakan kamera depan ponsel, lalu tiba-tiba menampilkan wajah hantu di layar. Aksi itu menuai sorotan, hingga seorang psikolog mengingatkan orang tua agar lebih berhati-hati.

Konten tersebut dilaporkan beredar luas di media sosial dan dibahas di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026. Polanya relatif sama di berbagai unggahan: anak diajak melihat layar ponsel, kemudian filter hantu dimunculkan secara mendadak. Reaksi terkejut anak itulah yang kemudian menjadi isi utama konten dan dibagikan kepada penonton.

Psikolog yang menyoroti fenomena ini menilai orang tua perlu mempertimbangkan kembali lelucon semacam itu. Teguran tersebut muncul bukan karena filter hantu itu sendiri, melainkan karena sasarannya adalah anak yang belum tentu memahami bahwa apa yang muncul di layar hanyalah efek kamera. Bagi anak yang masih kecil, batas antara lelucon dan sesuatu yang menakutkan bisa terasa tipis, terutama ketika kejutan itu datang dari orang terdekatnya sendiri.

Cara kerja prank ini terbilang sederhana, dan justru di situlah daya tariknya bagi pembuat konten. Kamera depan ponsel menampilkan wajah anak, lalu filter wajah hantu diterapkan dalam sekejap. Anak yang tidak menduga apa-apa pun terkejut, menangis, atau berlari, dan momen itu direkam. Format reaksi spontan seperti ini memang mudah menyebar, karena penonton cenderung membagikan video yang memancing tawa atau rasa terkejut dalam hitungan detik.

Namun kemudahan membuat konten semacam itu juga membawa pertanyaan tentang dampaknya bagi anak. Rasa takut yang muncul mendadak bisa membekas lebih lama daripada yang diperkirakan orang dewasa, apalagi bila anak belum bisa membedakan mana efek kamera dan mana hal yang benar-benar terjadi. Di sinilah teguran psikolog menjadi relevan: lelucon yang dimaksudkan sebagai hiburan ringan bisa berubah menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan bagi anak.

Orang tua yang membuat konten semacam ini umumnya tidak berniat menakut-nakuti anak secara serius. Banyak yang menganggapnya sekadar candaan keluarga yang lucu untuk dibagikan. Tetapi dari sudut pandang anak, kejutan yang datang tiba-tiba dan disertai sosok menyeramkan tidak selalu terasa seperti candaan. Reaksi anak yang menangis atau ketakutan justru menjadi penanda bahwa lelucon itu telah melewati batas kenyamanan mereka.

Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana filter kamera telah mengubah cara keluarga bercanda. Efek wajah yang dulu hanya dipakai untuk bersenang-senang kini bisa dipakai untuk mengerjai orang lain, termasuk anak sendiri. Ketika hasil rekamannya diunggah, candaan keluarga itu berubah menjadi tontonan publik, dan anak yang menjadi objek prank tidak memiliki kendali atas seberapa luas video itu tersebar.

Karena itu, peringatan psikolog dapat dibaca sebagai ajakan untuk menimbang ulang sebelum mengunggah. Orang tua diajak memastikan bahwa candaan yang dibuat tidak membuat anak merasa takut, malu, atau tidak aman, serta tidak menjadikan reaksi takut anak sebagai bahan tontonan. Bila anak terlihat tidak nyaman, menghentikan lelucon dan menenangkan anak jauh lebih penting daripada melanjutkan rekaman.

Pada akhirnya, filter hantu hanyalah alat. Yang menentukan apakah lelucon itu pantas atau tidak adalah cara orang dewasa menggunakannya dan kepekaan terhadap perasaan anak. Hiburan yang baik adalah hiburan yang membuat semua pihak tertawa bersama, bukan hiburan yang membuat satu pihak ketakutan sementara pihak lain tertawa.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Media sosial diramaikan konten orang tua yang menakut-nakuti anak menggunakan filter hantu lewat kamera depan ponsel.
  • Dalam konten yang beredar, orang tua sengaja mengerjai anak, lalu tiba-tiba menampilkan wajah hantu di layar.
  • Seorang psikolog mengingatkan orang tua agar lebih berhati-hati dengan lelucon semacam itu.
  • Bagi anak yang masih kecil, batas antara lelucon dan sesuatu yang menakutkan bisa terasa tipis.
  • Orang tua diajak memastikan candaan tidak membuat anak merasa takut, malu, atau tidak aman.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *