Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sembilan perusahaan masih berada dalam antrean penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) hingga akhir Oktober 2026. Data BEI per 30 Oktober 2026 itu menunjukkan jumlah calon emiten yang menunggu giliran melantai di bursa tidak berubah dalam dua bulan terakhir, di tengah perjalanan pasar modal Indonesia sepanjang tahun ini.
Dari sembilan perusahaan tersebut, lima perusahaan tergolong berskala menengah dengan nilai aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Tiga perusahaan lainnya memiliki aset di atas Rp250 miliar sehingga masuk kategori beraset besar, sedangkan satu perusahaan memiliki aset di bawah Rp50 miliar dan tergolong berskala kecil. Pengelompokan ini mengacu pada ketentuan Otoritas Jasa Keuangan tentang klasifikasi aset calon emiten.
Bila dilihat dari sektor usahanya, perusahaan dari sektor kesehatan menjadi penyumbang terbesar dalam antrean IPO, yakni empat perusahaan atau sekitar 44,4 persen dari total antrean. Sektor bahan baku dan sektor energi masing-masing menyumbang dua perusahaan, sementara satu perusahaan lainnya berasal dari sektor keuangan. Komposisi ini menunjukkan antrean pencatatan saham saat ini didominasi perusahaan dari sektor kesehatan, bahan baku, dan energi.
Sepanjang tahun 2026 hingga akhir Oktober, sebanyak tujuh perusahaan telah resmi melantai di bursa dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp2,16 triliun. Angka tersebut menjadi pembanding bagi antrean yang masih menunggu, karena dana yang berhasil dihimpun emiten baru mencerminkan sejauh mana pasar menyerap penawaran saham perdana dalam kondisi ekonomi yang berjalan.
IPO sendiri merupakan cara perusahaan memperoleh dana dari publik dengan menjual sebagian sahamnya untuk pertama kali di pasar modal. Dana hasil IPO umumnya digunakan untuk memperkuat modal kerja, membiayai ekspansi usaha, melunasi sebagian kewajiban, atau meningkatkan kapasitas produksi. Bagi perusahaan, melantai di bursa juga membuka akses pendanaan jangka panjang yang lebih luas dibandingkan hanya mengandalkan pinjaman perbankan.
Namun, masuk dalam antrean atau pipeline IPO bukan jaminan bahwa perusahaan pasti segera mencatatkan sahamnya. Jadwal pencatatan dapat berubah mengikuti kesiapan dokumen, hasil penelaahan otoritas bursa, kondisi pasar, serta pertimbangan internal perusahaan mengenai waktu yang paling tepat untuk menawarkan sahamnya kepada publik. Karena itu, jumlah antrean lebih tepat dibaca sebagai gambaran minat perusahaan masuk pasar modal, bukan sebagai kepastian jumlah emiten baru.
Di luar saham, BEI juga mencatat aktivitas penghimpunan dana melalui efek bersifat utang dan sukuk atau EBUS. Hingga akhir Oktober 2026, tercatat 156 emisi EBUS dari 67 penerbit dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp157,73 triliun. Selain itu, sebanyak 27 emisi EBUS dari 17 penerbit masih berada dalam proses pencatatan. Aktivitas ini menunjukkan pasar modal tetap menjadi salah satu jalur pendanaan bagi perusahaan dan lembaga, baik melalui saham maupun instrumen utang.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada apakah antrean sembilan perusahaan ini benar-benar berubah menjadi pencatatan saham sebelum tutup tahun 2026. Realisasi pencatatan tersebut ikut menentukan seberapa dalam pasar modal Indonesia bertambah, seberapa beragam pilihan saham bagi investor, dan seberapa besar dana segar yang dapat diserap dunia usaha dari pasar modal.
Apa poin penting dari berita ini?
- Bursa Efek Indonesia mencatat sembilan perusahaan masih berada dalam antrean IPO hingga akhir Oktober 2026.
- Lima perusahaan tergolong berskala menengah, tiga beraset besar, dan satu berskala kecil.
- Sektor kesehatan menjadi penyumbang terbesar antrean dengan empat perusahaan, disusul bahan baku dan energi masing-masing dua perusahaan.
- Sepanjang 2026 hingga akhir Oktober, tujuh perusahaan telah melantai di bursa dengan total dana Rp2,16 triliun.
- Masuk antrean IPO bukan jaminan perusahaan pasti segera mencatatkan sahamnya, karena jadwal dapat berubah mengikuti kesiapan dan kondisi pasar.
- Pasar modal juga mencatat 156 emisi EBUS dari 67 penerbit dengan total dana Rp157,73 triliun hingga akhir Oktober 2026.


