Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional atau BPGMN tengah mengembangkan sebuah sistem bernama Sagara. Sistem ini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk mendeteksi dini kebakaran lahan gambut dan kerusakan ekosistem mangrove, menurut kabar yang beredar pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
Gagasan di balik Sagara berangkat dari persoalan klasik dalam pengelolaan gambut dan mangrove, yakni luas wilayah yang harus dipantau. Lahan gambut dan kawasan mangrove membentang di wilayah yang sangat luas dan sering kali sulit dijangkau. Mengandalkan pemantauan manual semata membuat tanda-tanda awal kerusakan bisa terlambat diketahui.
Kecerdasan buatan menawarkan cara kerja yang berbeda. Sistem dapat mengolah data dalam jumlah besar secara cepat dan mencari pola yang menandakan adanya perubahan. Misalnya, perubahan pada tutupan lahan, tanda-tanda kekeringan, atau aktivitas yang tidak biasa di suatu kawasan dapat dikenali lebih awal, sebelum kerusakan meluas.
Deteksi dini menjadi kunci karena kebakaran gambut sangat sulit dipadamkan setelah meluas. Gambut yang kering dapat terbakar di bawah permukaan dan menyala kembali meski api di permukaan tampak sudah padam. Karena itu, mengetahui potensi kebakaran sejak awal memberi waktu bagi petugas untuk bertindak sebelum api menjadi besar dan asapnya menyebar luas.
Hal yang sama berlaku untuk mangrove. Mangrove berfungsi sebagai pelindung pantai, tempat hidup berbagai biota, dan penyimpan karbon alami. Kerusakan mangrove yang tidak segera diketahui dapat berkembang menjadi hilangnya kawasan yang luas, yang pemulihannya membutuhkan waktu sangat lama dan biaya besar.
Sistem seperti Sagara tidak menggantikan petugas di lapangan, melainkan memperkuat kerja mereka. Informasi dini dari sistem dapat membantu petugas menentukan prioritas wilayah yang harus diperiksa lebih dulu, sehingga sumber daya yang terbatas dapat digunakan secara lebih tepat sasaran.
Pengembangan sistem ini juga menunjukkan pergeseran pendekatan dalam pengelolaan lingkungan, dari yang bersifat reaktif menjadi lebih antisipatif. Alih-alih hanya merespons setelah kebakaran terjadi atau kerusakan terlihat, pengelola berupaya mengenali risiko sejak dini dan mencegahnya membesar.
Tentu saja, sistem secanggih apa pun tetap membutuhkan data yang baik, pemeliharaan yang berkelanjutan, dan tindak lanjut di lapangan. Deteksi tanpa respons yang cepat tidak akan banyak mengubah keadaan. Karena itu, keberhasilan Sagara nantinya akan sangat ditentukan oleh bagaimana informasi dari sistem diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Untuk saat ini, Sagara masih dalam tahap pengembangan oleh BPGMN. Kehadirannya menandai upaya untuk memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan demi menjaga gambut dan mangrove Indonesia, dua ekosistem yang perannya sangat penting bagi lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.
Apa poin penting dari berita ini?
- BPGMN tengah mengembangkan sistem bernama Sagara.
- Sagara memanfaatkan kecerdasan buatan untuk deteksi dini kebakaran gambut dan kerusakan mangrove.
- Lahan gambut dan mangrove sangat luas dan sulit dipantau hanya dengan cara manual.
- Kebakaran gambut sulit dipadamkan setelah meluas, sehingga deteksi dini memberi waktu untuk bertindak.
- Sistem ini memperkuat kerja petugas lapangan, bukan menggantikannya, dan harus diikuti tindakan nyata.


