Dunia resmi mengucapkan selamat tinggal pada detik kabisat. Pada 15 Oktober 2026, Konferensi Umum tentang Berat dan Ukuran (CGPM) yang bersidang di Versailles, Prancis, memutuskan bahwa Waktu Universal Terkoordinasi (UTC) akan berjalan secara kontinu mulai 20 Mei 2027, bertepatan dengan Hari Metrologi Sedunia. Keputusan ini mengakhiri praktik penyisipan detik kabisat yang sudah berjalan sejak 1972, dan menggantinya dengan toleransi selisih hingga satu jam, yang kelak dikenal sebagai jam kabisat.
Selama ini, UTC dijaga agar selisihnya dengan waktu astronomis (UT1), yaitu waktu yang mengikuti rotasi Bumi, tidak lebih dari 0,9 detik. Caranya adalah dengan menyisipkan satu detik ekstra, yang disebut detik kabisat, setiap kali kedua skala waktu itu hampir meleset. Sejak 1972, sudah 27 detik kabisat ditambahkan, dengan yang terakhir terjadi pada 31 Desember 2016, ketika jam yang mengikuti aturan menampilkan pukul 23:59:60 sebelum berganti tahun. Lembaga IERS yang mengumumkan detik kabisat bahkan sudah memastikan tidak akan ada detik kabisat pada akhir Desember 2026.
Masalahnya, detik kabisat yang hanya berdurasi satu detik justru sering menimbulkan gangguan besar. Menit yang berisi 61 detik itu kerap mengacaukan sistem komputer, jaringan telekomunikasi, dan infrastruktur kritis yang tidak dirancang untuk menanganinya. Perdebatan tentang hal ini sudah berlangsung sekitar 30 tahun di kalangan penjaga waktu dunia, hingga akhirnya resolusi yang diambil CGPM pada pertemuan ke-28 itu memenangkan suara mayoritas, meski tidak bulat.
Resolusi 5 CGPM itu memuat dua poin utama. Pertama, UTC kontinu berlaku mulai 20 Mei 2027. Kedua, selisih maksimum yang diizinkan antara UTC dan UT1 diperlebar dari 0,9 detik menjadi 3.600 detik, alias satu jam penuh. Artinya, jam resmi dunia tidak lagi dipaksa menempel ketat pada rotasi Bumi yang memang tidak stabil, melainkan dibiarkan meleset perlahan hingga satu jam. Para ilmuwan memperkirakan koreksi sebesar satu jam itu baru dibutuhkan ratusan hingga ribuan tahun lagi, sehingga secara praktis prosedur pengaitan UTC dengan posisi Bumi di langit bisa dianggap berakhir.
Keputusan ini sebenarnya mempercepat rencana lama. Pada 2022, CGPM sudah memutuskan bahwa batas selisih UT1 dan UTC akan dinaikkan paling lambat pada 2035. Pemungutan suara 2026 memajukan jadwal itu delapan tahun lebih awal, sekaligus menutup peluang munculnya detik kabisat negatif, yaitu menit yang hanya berisi 59 detik, yang sempat diperkirakan berpeluang sekitar 30 persen terjadi sebelum 2035 karena rotasi Bumi yang belakangan berputar sedikit lebih cepat.
Bagi pengguna sehari-hari, perubahan ini nyaris tidak terasa. Jam di ponsel, komputer, dan zona waktu tetap berjalan seperti biasa, dan sistem operasi serta server waktu tidak lagi menerima pengumuman detik kabisat setelah Mei 2027. Waktu GPS yang memang tidak pernah memakai detik kabisat akan tetap berjalan 18 detik di depan UTC, dan selisih itu kini membeku. Yang masih terbuka adalah mekanisme koreksi ketika selisih satu jam itu akhirnya tercapai, apakah lewat jam kabisat atau cara lain, dan itu menjadi pekerjaan generasi masa depan.
Apa poin penting dari berita ini?
- Pada 15 Oktober 2026, Konferensi Umum tentang Berat dan Ukuran di Versailles memutuskan detik kabisat dihapus dan UTC berjalan kontinu mulai 20 Mei 2027.
- Sejak 1972 sudah 27 detik kabisat ditambahkan, dengan yang terakhir pada 31 Desember 2016, dan tidak akan ada lagi pada akhir Desember 2026.
- Selisih maksimum yang diizinkan antara UTC dan waktu rotasi Bumi (UT1) diperlebar dari 0,9 detik menjadi 3.600 detik atau satu jam.
- Keputusan ini mengakhiri perdebatan sekitar 30 tahun dan mempercepat rencana 2022 yang semula menargetkan perubahan paling lambat pada 2035.
- Para ilmuwan memperkirakan koreksi sebesar satu jam itu baru dibutuhkan ratusan hingga ribuan tahun lagi, sehingga pengguna sehari-hari nyaris tidak merasakan perubahan.


