Saturday, 31 October 2026
Ekonomi

Sorotan MSCI, Hashim Ingatkan Risiko Rupiah Melemah hingga Rp21 Ribu

Gedung bursa saham dan layar pergerakan harga saham

Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hashim Djojohadikusumo, mengingatkan risiko pelemahan rupiah yang dalam bila kepercayaan investor asing terhadap pasar modal Indonesia terus tergerus. Dalam pandangannya, dolar Amerika Serikat bisa menembus level Rp20.000 hingga Rp21.000, bahkan ada yang memperkirakan sampai Rp22.000, apabila dana asing benar-benar keluar dari bursa saham dalam negeri.

Peringatan itu disampaikan Hashim saat berbicara pada Rapat Pimpinan Nasional Kadin Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (29/10/2026). Hashim yang juga Utusan Khusus Presiden untuk Iklim dan Energi itu menyebut ancaman tersebut sebagai persoalan yang sangat serius, karena pelemahan rupiah akan membuat pembayaran utang luar negeri menjadi jauh lebih mahal dan bisa berujung pada guncangan ekonomi yang luas.

Sumber kekhawatiran itu adalah rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI), penyedia indeks global yang menjadi acuan banyak dana investasi, untuk menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Penurunan status tersebut, bila benar terjadi, akan memaksa dana-dana yang mengikuti indeks MSCI untuk menjual saham Indonesia, sehingga arus modal keluar semakin deras.

Hashim menjelaskan, sorotan MSCI berkaitan dengan indikasi praktik perdagangan yang tidak sehat di bursa. Ia menyebut adanya saham dengan jumlah saham beredar yang kecil atau free float yang rendah, tetapi memiliki rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/PER) yang melambung sangat tinggi dan tidak wajar. Kondisi seperti itu menimbulkan dugaan manipulasi harga saham dan menggerus kepercayaan investor.

Menurut Hashim, Presiden Prabowo Subianto telah menugaskan dirinya bersama Kementerian Investasi/BKPM untuk memitigasi risiko penurunan status tersebut agar tidak berkembang menjadi krisis. Ia juga mengaku pernah berdiskusi dengan Rosan, CEO BPI Danantara, mengenai skenario terburuk itu, di mana dolar bisa mencapai Rp21.000 hingga Rp22.000 dan beban pembayaran utang luar negeri melonjak.

Kekhawatiran Hashim muncul di tengah tekanan yang sudah nyata terhadap rupiah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah menembus Rp18.000, dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta masyarakat tidak panik menghadapi tekanan tersebut. Pemerintah dan otoritas moneter, menurut Airlangga, terus berkoordinasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Di sisi lain, MSCI sendiri masih berada pada tahap konsultasi dengan para pelaku pasar mengenai rencana perubahan status tersebut. Keputusan final dijadwalkan paling lambat pada 30 Juni 2027, dengan kemungkinan pembaruan berkala selama masa konsultasi. Artinya, masih ada waktu bagi otoritas dan pelaku pasar Indonesia untuk memperbaiki tata kelola bursa, meningkatkan transparansi, dan memulihkan kepercayaan investor sebelum keputusan itu diketok.

Bagi pelaku usaha dan masyarakat, peringatan Hashim menjadi pengingat bahwa persoalan pasar modal tidak berhenti di lantai bursa. Bila dana asing pergi dan rupiah melemah tajam, dampaknya bisa menjalar ke harga barang impor, biaya produksi, hingga beban utang. Karena itu, pembenahan praktik perdagangan saham dan penguatan kepercayaan investor menjadi langkah yang tidak bisa ditunda.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Hashim Djojohadikusumo mengingatkan dolar AS bisa menembus Rp20.000 hingga Rp21.000, bahkan Rp22.000, bila investor asing keluar dari pasar modal Indonesia.
  • Pemicunya adalah rencana MSCI menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
  • Sorotan MSCI berkaitan dengan indikasi praktik perdagangan tidak sehat, seperti free float rendah tetapi PER melambung tidak wajar.
  • Peringatan disampaikan pada Rapimnas Kadin di Jakarta, Kamis (29/10/2026), di tengah rupiah yang sudah menembus Rp18.000.
  • Keputusan final MSCI dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027, sehingga masih ada waktu untuk memperbaiki tata kelola bursa dan memulihkan kepercayaan investor.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *