Perusahaan logam mulia asal Jepang, Tanaka Precious Metal, berminat menanamkan modal di Indonesia. Minat investasi itu diungkapkan Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia (APPI) setelah pertemuannya dengan Menteri Perindustrian Sarmuji di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, pada Rabu, 28 Oktober 2026.
Wakil Ketua APPI, Arief Budiman, menyampaikan kabar tersebut usai pertemuan itu. Menurut Arief, APPI sengaja mendatangkan investor dari Jepang tersebut untuk dijajaki sebagai mitra dalam pengembangan industri pengolahan logam mulia di dalam negeri, sehingga nilai tambah dari kekayaan alam Indonesia tidak lagi seluruhnya dinikmati di luar negeri.
Tanaka Precious Metal direncanakan mengolah bahan mentah menjadi produk industri hilir, antara lain potassium gold cyanide (PGC) dan kawat pengikat atau bonding wire. Kedua produk tersebut dibutuhkan oleh industri otomotif dan elektronik, dua sektor manufaktur yang selama ini bergantung pada pasokan komponen presisi dari luar negeri.
Gagasan hilirisasi ini berangkat dari kenyataan yang disoroti APPI: industri pengolahan logam mulia selama ini lebih banyak terpusat di Taiwan dan sejumlah negara lain, padahal bahan bakunya justru berasal dari tambang-tambang di Indonesia. Akibatnya, Indonesia lebih banyak berperan sebagai pemasok bahan mentah, sementara proses pengolahan yang bernilai tambah tinggi berlangsung di luar negeri.
Arief menegaskan, industri pengolahan itu seharusnya dibawa ke Indonesia, agar apa yang dimiliki bangsa Indonesia dapat dinikmati oleh rakyat Indonesia, bukan semata-mata oleh pihak asing. Pernyataan itu menggambarkan semangat hilirisasi yang kini menjadi arah kebijakan industri nasional: mengolah sumber daya di dalam negeri sebelum diekspor dalam bentuk produk jadi.
Menteri Perindustrian Sarmuji disebut menyambut positif rencana hilirisasi tersebut. Sebagai tindak lanjut, Sarmuji mengarahkan APPI untuk berkoordinasi lebih lanjut dengan direktorat terkait di lingkungan Kementerian Perindustrian, agar rencana investasi itu dapat dikaji dari sisi teknis, regulasi, dan kesiapan industrinya.
Agenda berikutnya sudah dijadwalkan: APPI akan menggelar rapat dengan Direktorat Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian pada 2 November mendatang. Pertemuan itu menjadi langkah awal untuk membahas lebih rinci kebutuhan dan hambatan investasi, sebelum ada pembicaraan lebih jauh mengenai realisasi proyek.
Meski minat investasi sudah disampaikan, Arief mengakui belum ada kesepakatan mengenai nilai investasi secara spesifik. Artinya, rencana ini masih berada pada tahap penjajakan, bukan kesepakatan final. Calon investor masih ingin memastikan penyelesaian sejumlah persoalan regulasi sebelum memastikan komitmen dananya.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah pasokan bahan baku kimia yang masuk dalam daftar larangan dan pembatasan (lartas), khususnya potassium cyanide. Bahan kimia tersebut merupakan input penting dalam pengolahan logam mulia, sehingga kepastian regulasinya menjadi penentu bagi investor untuk melangkah lebih jauh.
Karena itu, APPI masih akan berkonsolidasi dengan Kementerian Perindustrian guna meyakinkan calon investor tersebut agar benar-benar menanamkan modal di Indonesia. Konsolidasi ini mencakup penjelasan mengenai skema perizinan, kepastian pasokan bahan baku, serta dukungan kebijakan yang dibutuhkan industri pengolahan logam mulia.
Jika terealisasi, investasi pengolahan logam mulia di dalam negeri berpotensi memperkuat rantai pasok industri otomotif dan elektronik nasional, membuka lapangan kerja di sektor pengolahan, serta mengurangi ketergantungan pada produk impor. Namun semua potensi itu masih bergantung pada penyelesaian persoalan regulasi dan kesepakatan nilai investasi yang hingga kini belum diputuskan.
Apa poin penting dari berita ini?
- Perusahaan logam mulia asal Jepang, Tanaka Precious Metal, berminat berinvestasi di Indonesia, sebagaimana diungkapkan APPI usai bertemu Menteri Perindustrian Sarmuji pada Rabu, 28 Oktober 2026.
- Tanaka direncanakan mengolah bahan mentah menjadi potassium gold cyanide (PGC) dan bonding wire untuk memasok industri otomotif dan elektronik.
- APPI menyoroti industri pengolahan logam mulia selama ini terpusat di Taiwan dan negara lain, padahal bahan bakunya berasal dari tambang di Indonesia.
- Menperin Sarmuji menyambut positif rencana hilirisasi itu dan mengarahkan APPI berkoordinasi dengan direktorat terkait, dengan rapat lanjutan bersama Direktorat Industri Kimia Hulu dijadwalkan pada 2 November.
- Belum ada kesepakatan nilai investasi secara spesifik, karena investor masih menunggu kepastian regulasi pasokan bahan baku kimia dalam daftar lartas, khususnya potassium cyanide.

