Thursday, 29 October 2026
Kesehatan

Vivax, Kina, dan Sumbangan Indonesia untuk Dunia

Ilustrasi petugas kesehatan memeriksa sampel darah pasien malaria

Vaksin malaria dan fitofarmaka dinilai sebagai dua peluang besar bagi Indonesia untuk memberi sumbangan nyata kepada dunia. Gagasan itu mengemuka setelah rapat terbatas di Istana pada Selasa, 27 Oktober 2026, ketika Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyampaikan penekanan Presiden Prabowo Subianto tentang apa yang bisa disumbangkan Indonesia kepada dunia, serta percepatan riset vaksin malaria.

Kisah ini berakar jauh ke belakang. Pada Februari 1858, antropolog Alfred Russel Wallace terbaring demam di sebuah gubuk di Dodinga, Halmahera, dan di sanalah ia merumuskan gagasan seleksi alam yang kemudian dikirimkan kepada Charles Darwin. Naskah itu bertanda Ternate, sehingga dunia mengaitkan teori evolusi dengan pulau rempah tersebut.

Seabad kemudian, malaria masih menjadi musuh besar kesehatan Indonesia yang baru merdeka. Kampanye pemberantasan dimulai dengan penyemprotan DDT yang diluncurkan Presiden Soekarno di Kalasan, Yogyakarta, pada 1959, dan lima tahun kemudian sekitar 63 juta orang disebut telah terlindungi. Hingga 2026, sekitar 80 persen kabupaten dan kota telah dinyatakan bebas malaria, tetapi penyakit ini masih bertahan di timur Indonesia, dengan 95 persen kasus nasional berada di Papua dan 706.297 kasus tercatat Kementerian Kesehatan pada 2025.

Celah besar yang bisa diisi Indonesia adalah vaksin vivax. Dua vaksin malaria yang sudah direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni RTS,S dan R21, hanya menyasar Plasmodium falciparum, parasit paling mematikan yang mendominasi Afrika. Keduanya tidak melindungi dari Plasmodium vivax, penyebab sebagian besar kesakitan malaria di Asia Tenggara. Arif Satria menyebut parasit malaria Indonesia memiliki karakteristik yang agak berbeda, dan hingga kini belum ada vaksin vivax di dunia.

Data dari Papua mempertegas urgensi itu. Studi di Timika pada 2004 hingga 2005 mencatat 37 persen kasus malaria sebagai vivax, dan pada bayi di bawah satu tahun, vivax murni menjadi penyebab utama. Vivax yang resisten terhadap klorokuin pertama kali dilaporkan dari Papua pada 1989, dan wilayah itu kemudian dikenal memiliki tingkat vivax resisten obat tertinggi di dunia. Riset lanjutan di rumah sakit Timika mengaitkan vivax multiresisten dengan malaria berat dan kematian, terutama pada anak kecil, sekaligus mengoreksi anggapan lama bahwa vivax adalah malaria yang jinak.

Vaksin vivax buatan Indonesia karena itu akan mengisi ruang yang belum digarap, bukan sekadar mengejar ketertinggalan. Target percepatan tiga tahun dari jadwal akan bergantung pada jalur uji klinis, evaluasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan kapasitas produksi. Kandidat yang paling maju saat ini masih berada pada tahap praklinis, sementara kandidat lain berada pada tahap bukti konsep.

Preseden kina menunjukkan bahwa kekayaan hayati hanya menjadi kekuatan setelah diuji, distandardisasi, dan dihilirisasi. Pada 29 Juni 1896, pabrik kina Bandoengsche Kininefabriek didirikan di Bandung dan hingga 1942 tercatat sebagai pabrik kina terbesar di dunia. Ketika Jawa jatuh ke tangan Jepang, pasukan Sekutu yang berperang di kawasan Pasifik yang ber-malaria kehilangan pasokan obat tersebut.

Potensi serupa masih terbuka. BPOM mencatat sekitar 30.000 spesies tanaman obat di Indonesia, sekitar 18.000 di antaranya dipakai sebagai jamu, 71 telah menjadi obat herbal terstandar, dan baru 20 yang menjadi fitofarmaka setelah lolos uji klinis pada manusia. Sebanyak 19 kandidat fitofarmaka yang disebut Arif Satria kini berstatus obat herbal terstandar dan sedang menjalani uji klinis; bila semuanya lolos, jumlah fitofarmaka nasional hampir berlipat ganda. BRIN juga baru bekerja sama dengan National Institute of Food and Drug Safety (NIFDS) Korea Selatan, diawali pada standardisasi herbal.

Tantangan terbesarnya adalah kemandirian bahan baku. Presiden disebut menekankan kemandirian obat untuk segera diwujudkan, di tengah ketergantungan sekitar 95 persen pada bahan baku obat impor, sebagian besar dari Tiongkok dan India. Formularium Fitofarmaka Kementerian Kesehatan yang diluncurkan pada 2022 telah membuka jalan pemakaian fitofarmaka di fasilitas kesehatan, dan Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) mendorong agar fitofarmaka masuk ke dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), karena obat yang terbukti klinis membutuhkan pembeli pertama, dan sistem asuransi kesehatan itulah pembelinya. Hal yang sama berlaku untuk vaksin: kepastian serapan oleh program imunisasi nasional akan menentukan skala produksinya.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Vaksin malaria dan fitofarmaka dinilai sebagai dua peluang besar bagi Indonesia untuk memberi sumbangan nyata kepada dunia, setelah rapat terbatas di Istana pada Selasa, 27 Oktober 2026.
  • Dua vaksin malaria yang sudah direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni RTS,S dan R21, hanya menyasar Plasmodium falciparum dan tidak melindungi dari Plasmodium vivax, penyebab sebagian besar kesakitan malaria di Asia Tenggara.
  • Hingga 2026, sekitar 80 persen kabupaten dan kota telah dinyatakan bebas malaria, tetapi 95 persen kasus nasional berada di Papua dan 706.297 kasus tercatat Kementerian Kesehatan pada 2025.
  • Pada 29 Juni 1896, pabrik kina Bandoengsche Kininefabriek didirikan di Bandung dan hingga 1942 tercatat sebagai pabrik kina terbesar di dunia.
  • BPOM mencatat sekitar 30.000 spesies tanaman obat di Indonesia, sekitar 18.000 di antaranya dipakai sebagai jamu, 71 telah menjadi obat herbal terstandar, dan baru 20 yang menjadi fitofarmaka.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *