Thursday, 29 October 2026
Teknologi

TKDN Drone Lokal Capai 66 Persen, Baterai dan Motor Listrik Masih Impor

Kendaraan listrik dalam pameran kendaraan listrik PEVS 2026

Pemerintah mendorong peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) untuk memperkuat industri manufaktur nasional. Namun, produsen drone lokal masih menghadapi tantangan nyata: sejumlah komponen penting, seperti baterai dan motor listrik, belum dapat diproduksi sepenuhnya di dalam negeri.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, mengatakan penguatan industri komponen menjadi bagian penting dalam pengembangan kendaraan listrik nasional. Hal itu disampaikan dalam pembukaan Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) 2026 pada Kamis, 29 Oktober 2026.

Pemerintah menargetkan TKDN kendaraan bermotor listrik berbasis baterai roda empat minimal 40 persen hingga 2026, meningkat menjadi 60 persen pada periode 2027-2029, dan 80 persen mulai 2030. “Peningkatan target ini sebenarnya mencerminkan tahapan pengembangan industri yang semakin dalam, dan kita bergerak dari pengembangan pasar, penarikan investasi, menuju peningkatan penggunaan baterai dan modul yang diproduksi di dalam negeri, hingga penguatan kemampuan produksi komponen utama termasuk sel baterai di Indonesia,” ujar Setia.

Kemenperin mencatat populasi kendaraan listrik di Indonesia mencapai 541 ribu unit hingga Agustus 2026. Jumlah tersebut mencakup kendaraan roda dua, roda tiga, roda empat, kendaraan komersial, dan kendaraan khusus lainnya. Menurut Setia, pertumbuhan pasar kendaraan listrik perlu diikuti peningkatan kapasitas produksi, penguatan industri komponen, dan pengembangan sumber daya manusia, agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga basis produksi kendaraan listrik.

Tantangan penguatan komponen lokal juga terlihat pada industri drone. CEO Frogs Indonesia, Adhitya Chandra, mengatakan drone pertanian buatan perusahaannya memiliki TKDN sekitar 66 persen. Namun, sejumlah komponen penting, seperti baterai, motor listrik tanpa sikat (brushless DC motor), dan baling-baling, masih didatangkan dari luar negeri.

Frogs Indonesia memproduksi drone untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pemetaan lahan, pengawasan, penyemprotan pertanian, hingga pengangkutan barang. Perusahaan ini juga mengembangkan sistem kendali penerbangan atau flight controller sendiri, sebagai bagian dari kemampuan teknologi dalam negeri yang sudah dikuasai.

Menurut Adhitya, pengembangan pasar dibutuhkan agar produsen lokal dapat meningkatkan volume produksi dan menekan biaya. Produk dalam negeri masih harus bersaing dengan drone impor yang menawarkan harga lebih murah. “Suatu industri itu akan berjalan dengan baik jika market-nya ada. Kalau market-nya itu tidak ada, ya kami tidak akan bisa mencetak volume yang banyak,” ujar Adhitya.

Tekanan pasar itu tercermin pada angka penjualan: penjualan Frogs Indonesia pada 2026 turun hampir 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan perkiraan penjualan tahun ini sekitar 130 unit untuk berbagai jenis drone. Di sisi lain, Adhitya melihat peluang penggunaan drone untuk mendukung sektor pertanian, termasuk pemetaan lahan dan penyemprotan pupuk maupun pestisida. Ia menyebut kebutuhan drone untuk program cetak sawah mencapai lebih dari 7.000 unit, meskipun angka tersebut masih perlu dikonfirmasi berdasarkan kebutuhan yang sebenarnya.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Pemerintah menargetkan TKDN kendaraan listrik roda empat minimal 40 persen hingga 2026, 60 persen pada 2027-2029, dan 80 persen mulai 2030.
  • Populasi kendaraan listrik di Indonesia mencapai 541 ribu unit hingga Agustus 2026, meliputi roda dua, roda tiga, roda empat, kendaraan komersial, dan kendaraan khusus.
  • Drone pertanian Frogs Indonesia memiliki TKDN sekitar 66 persen, tetapi baterai, motor listrik tanpa sikat, dan baling-baling masih diimpor.
  • Frogs Indonesia mengembangkan flight controller sendiri dan memproduksi drone untuk pemetaan, pengawasan, penyemprotan pertanian, dan pengangkutan barang.
  • Penjualan Frogs Indonesia pada 2026 turun hampir 60 persen dengan perkiraan sekitar 130 unit, sementara kebutuhan drone program cetak sawah disebut lebih dari 7.000 unit dan masih perlu dikonfirmasi.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *