Fenomena El Nino memperburuk krisis yang dialami petani kakao di Kabupaten Lombok Utara (KLU), Nusa Tenggara Barat (NTB). Kemarau yang berkepanjangan, suhu yang semakin panas, panen yang gagal atau menurun, buah yang menghitam, serta serangan jamur membuat harapan petani terhadap hasil kebunnya semakin pupus.
Di Dusun Pawang, Desa Gunjan Asri, KLU, cuaca pada pertengahan September begitu terik. Petani Wayan Merte berkeliling kebun seluas 50 are sambil menyirami pohon kakao satu per satu menggunakan ember, sekaligus membersihkan buah kakao yang tampak menghitam. Bagi Merte, kondisi itu terasa berat, karena panen yang diharapkan justru gagal.
Mengapa kekeringan di Lombok Utara begitu berdampak? Sebagian besar lahan di KLU merupakan lahan tadah hujan, sehingga sangat bergantung pada curah hujan. Di samping itu, formasi batuan dominan di wilayah itu, yang dikenal sebagai batuan lekopiko dan terdiri atas tuf, pumis, breksi lahar, serta lava, memiliki daya simpan air yang rendah. Kombinasi keduanya membuat tanah cepat kering ketika hujan tidak turun dalam waktu lama.
Data iklim memperkuat gambaran tersebut. Stasiun Klimatologi NTB Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan Juli 2026 di wilayah itu sangat rendah, sekitar 21 hingga 50 milimeter per bulan. El Nino dikhawatirkan memperpanjang musim kemarau dan menunda musim hujan 2026-2027, sehingga tekanan terhadap petani bisa berlangsung lebih lama.
Dampaknya sudah dirasakan di lapangan. Petani Gede Juandra menyebut tidak ada hujan sejak Mei, dan hasil panennya turun hingga 60 persen dibandingkan rata-rata sebelumnya. Sementara itu, Merte mengenang masa sebelum 2022, ketika satu kali panen bisa menghasilkan 1 hingga 1,5 kuintal, dengan enam kali panen dalam setahun dan harga yang pernah mencapai 125 ribu rupiah per kilogram. Perbandingan itu menunjukkan betapa jauhnya penurunan yang kini dialami petani.
Dari sisi produksi wilayah, angka-angka menunjukkan paradoks. Produksi kakao NTB naik dari 2.566 ton pada 2020 di lahan seluas 4.733 hektare menjadi 2.717 ton pada 2025 di lahan seluas 5.006 hektare, tetapi produktivitasnya tidak membaik. Di KLU sendiri, produksi kakao turun 100 ton pada periode 2020-2024. Artinya, perluasan lahan tidak serta-merta menaikkan hasil bila air dan perawatan tanaman tidak memadai.
Bagaimana petani bertahan? Mereka menyirami pohon dengan ember dan menanam kakao secara tumpang sari bersama mangga dan kelapa, agar kebun tetap memberi hasil lain ketika kakao melemah. Namun, cara itu pun terbatas. Merte menyampaikan, bila kondisi tidak berubah, tidak ada jalan lain selain beralih ke tanaman yang lebih menguntungkan, tetapi langkah itu membutuhkan modal baru yang tidak mudah disiapkan petani kecil.
Di tingkat daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KLU telah menetapkan status siaga kekeringan sejak awal Agustus. Analis kebencanaan BPBD KLU, Fauzal, dan Kepala BPBD KLU, M. Zaldi Rahman, menjadi bagian dari pihak yang memantau dampak kekeringan ini, sementara akademisi Fakultas Pertanian Universitas Mataram, Indriyatno, memberi perspektif ilmiah mengenai kerentanan lahan dan tanaman kakao di wilayah tersebut.
Kisah petani kakao Lombok Utara ini menunjukkan bahwa krisis iklim bukan isu yang jauh. Ia hadir dalam bentuk ember air, buah yang menghitam, dan panen yang menyusut, serta menuntut dukungan nyata berupa pengelolaan air, pendampingan budidaya, dan perlindungan ekonomi bagi petani kecil.
Apa poin penting dari berita ini?
- El Nino memperburuk krisis petani kakao di Kabupaten Lombok Utara, dengan kemarau panjang, suhu panas, panen gagal, buah menghitam, dan serangan jamur.
- Di Dusun Pawang, Desa Gunjan Asri, petani Wayan Merte menyirami pohon kakao seluas 50 are satu per satu dengan ember dan membersihkan buah yang menghitam.
- Sebagian besar lahan KLU adalah lahan tadah hujan, dan formasi batuan lekopiko memiliki daya simpan air yang rendah, sehingga tanah cepat kering.
- Curah hujan Juli 2026 tercatat sangat rendah, sekitar 21 hingga 50 milimeter per bulan, dan BPBD KLU menetapkan status siaga kekeringan sejak awal Agustus.
- Hasil panen Gede Juandra turun hingga 60 persen, produksi kakao KLU turun 100 ton pada 2020-2024, dan petani bertahan dengan penyiraman manual serta tumpang sari bersama mangga dan kelapa.


