Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa ketahanan kesehatan nasional membutuhkan kesiapsiagaan dan respons yang cepat. Pernyataan itu disampaikan melalui sambutan video dalam simposium ketiga Indonesian Health Resilience Association (SIERA) 2026 di Jakarta.
Menurut Benjamin, ancaman terhadap kesehatan sangat beragam, mulai dari bencana alam, penyakit menular, hingga krisis kesehatan lainnya. Karena itu, sistem kesehatan harus mampu mengantisipasi ancaman, meresponsnya dengan cepat, dan pulih kembali secara efektif setelah kejadian.
Ketahanan kesehatan juga tidak bisa dipisahkan dari ketahanan nasional. Ia menekankan perlunya sinergi antara layanan kesehatan sipil dan militer, sebab dalam situasi darurat kedua unsur itu harus bergerak dalam satu komando penanganan yang sama.
Ancaman kesehatan tidak mengenal batas wilayah. Karena itu, penguatan sistem kesehatan memerlukan kerja sama internasional, pertukaran pengetahuan, dan riset bersama antarnegara. Inovasi dan kemandirian teknologi kesehatan juga disebut sebagai bagian penting dari ketahanan tersebut.
Dalam forum yang sama, pakar kardiologi dari University College London, Profesor John Deanfield, menekankan pentingnya pencegahan dan pengendalian faktor risiko, bukan hanya pengobatan setelah seseorang sakit. Penyakit kardiovaskular dan obesitas, menurutnya, dapat dikendalikan risikonya melalui perubahan perilaku dan gaya hidup yang bertahap serta berkelanjutan.
Pencegahan yang realistis dan dijalankan secara konsisten, kata Deanfield, dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi individu maupun sistem kesehatan secara keseluruhan.


