JAKARTA — Pemerintah menyiapkan fasilitas penyimpanan (storage) minyak mentah di dalam negeri agar impor minyak mentah tidak lagi singgah ke negara lain sebelum masuk ke Indonesia. Rencana itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia seusai konferensi pers ketahanan energi nasional di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Langkah ini ditempuh untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Bahlil menggambarkan upaya tersebut sebagai mode bertahan di tengah ketidakpastian global, agar pasokan energi, kebutuhan masyarakat, dan aktivitas ekonomi tidak terganggu gejolak dari luar.
Dasar kebijakannya adalah Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2026. Lewat aturan itu, pengadaan minyak mentah, BBM, dan LPG kini dilakukan Badan Layanan Umum (BLU) melalui kerja sama government to government (G2G) dan government to business (G2B). Fasilitas storage akan dibangun BLU bersama perusahaan-perusahaan yang sudah bekerja sama.
Bahlil menegaskan Indonesia memang masih mengimpor minyak mentah, tetapi tidak lagi dari kawasan Timur Tengah. Untuk memastikan kepastian pasokan, ia dijadwalkan berkunjung ke sejumlah negara, termasuk India dan China, dan ditugasi Presiden Prabowo Subianto untuk mencari kontrak pasokan jangka panjang.
Ia juga memberi jaminan bahwa cadangan BBM berada pada standar minimum nasional dan harga BBM bersubsidi tidak akan naik. Sistem operasi mode blok Pertamina Patra Niaga disebut sebagai inovasi untuk menjaga stabilitas pasokan BBM dan meningkatkan efisiensi pengolahan minyak mentah.
Foto ilustrasi: Republika


