Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menekankan bahwa riset perguruan tinggi harus menjawab kebutuhan industri dan menghasilkan solusi yang dapat dipakai, bukan berhenti pada publikasi. Penekanan itu disampaikan dalam sesi diskusi panel Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin, 26 Oktober 2026, yang diberitakan pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Dalam panel tersebut, Brian tampil bersama Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy. Keduanya membahas peran riset dan inovasi dalam memperkuat industri nasional.
Mengapa riset kampus perlu terhubung dengan industri? Tanpa inovasi, sumber daya alam hanya dijual dalam bentuk bahan mentah. Riset yang menjawab kebutuhan industri diharapkan mampu mengolah sumber daya menjadi produk bernilai tambah, mengurangi ketergantungan impor, dan membangun industri dalam negeri.
Caranya adalah melalui kolaborasi kampus dan industri yang mengubah pengetahuan serta inovasi menjadi produk, teknologi, dan aktivitas ekonomi. Pengembangan sumber daya manusia dan riset yang relevan menjadi bagian penting dari kolaborasi tersebut.
Kebutuhan energi nasional, termasuk program B50 dan E50, disebut sebagai salah satu landasan untuk memperkuat kapasitas produksi dalam negeri. Riset kampus diharapkan berkontribusi pada kebutuhan nyata seperti itu, bukan hanya pada capaian akademik.
Dengan arah tersebut, perguruan tinggi diharapkan menjadi motor inovasi yang menopang kemandirian industri. Riset yang teruji di dunia nyata akan memberi manfaat lebih besar bagi perekonomian sekaligus membuka lapangan kerja berbasis teknologi.


