Tiga tokoh bangsa, Bacharuddin Jusuf Habibie, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dan William Soeryadjaya, menerima penghargaan Lifetime Achievement Award 2026 atas kontribusi mereka dalam membangun Indonesia. Penghargaan ini diberikan atas rekam jejak panjang ketiganya yang meninggalkan warisan besar bagi bangsa, masing-masing di bidangnya.
Habibie dikenal sebagai Presiden ketiga Republik Indonesia sekaligus ilmuwan dan insinyur penerbangan yang merintis industri strategis nasional. Selama dua dekade memimpin Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta sejumlah industri strategis, ia meletakkan fondasi kemandirian teknologi Indonesia, dari pesawat terbang hingga industri maritim. Kepemimpinannya pada masa transisi 1998-1999 juga membuka ruang reformasi dan kebebasan berpendapat yang menjadi fondasi demokrasi Indonesia.
Gus Dur, Presiden keempat Republik Indonesia, dikenang sebagai pejuang pluralisme dan demokrasi. Ia memperjuangkan kebebasan beragama, perlindungan kelompok minoritas, dan penghormatan terhadap keberagaman sebagai jati diri bangsa. Gagasan-gagasannya tentang Islam yang ramah, toleran, dan membumi terus menjadi rujukan dalam percakapan kebangsaan hingga kini.
Sementara itu, William Soeryadjaya adalah pendiri Astra International, salah satu kelompok usaha terbesar di Indonesia. Dari usaha dagang kecil, ia membangun Astra menjadi perusahaan yang membuka lapangan kerja luas dan berkontribusi besar pada perekonomian nasional. Kepemimpinannya yang menekankan kerja keras, kejujuran, dan tanggung jawab sosial menjadi teladan bagi dunia usaha Indonesia.
Mengapa ketiganya dipersatukan dalam satu penghargaan? Karena Lifetime Achievement Award bukan sekadar menghormati jabatan yang pernah diemban, melainkan menghargai dampak jangka panjang dari karya dan gagasan seseorang. Habibie membangun kemandirian teknologi, Gus Dur merawat demokrasi dan keberagaman, dan Soeryadjaya menggerakkan ekonomi serta lapangan kerja. Ketiganya, dengan cara yang berbeda, ikut membentuk Indonesia yang dikenal hari ini.
Penghargaan ini juga menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa kontribusi besar lahir dari konsistensi jangka panjang, bukan dari popularitas sesaat. Nilai-nilai yang diwariskan ketiga tokoh ini — ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan kerja keras — tetap relevan sebagai kompas pembangunan bangsa ke depan.


