Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan kondisi polusi udara di Jakarta menurun setelah dilakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) selama dua hari. Pernyataan itu ia sampaikan setelah memantau perkembangan kualitas udara ibu kota.
Modifikasi cuaca adalah upaya teknis untuk memengaruhi proses hujan, antara lain dengan menaburkan garam atau bahan semai awan ke awan potensial hujan. Tujuannya adalah mempercepat turunnya hujan, yang diharapkan dapat membasuh polutan di udara dan menurunkan konsentrasi partikel pencemar.
Jakarta memang langganan persoalan polusi udara, terutama pada musim kemarau. Sumber pencemar di ibu kota beragam, mulai dari emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, pembakaran terbuka, hingga debu konstruksi. Ketika angin lemah dan hujan jarang turun, polutan itu tertahan di lapisan udara rendah dan membuat kualitas udara memburuk.
Dalam kondisi seperti itu, OMC menjadi salah satu langkah darurat yang ditempuh pemerintah daerah bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Operasi ini biasanya dilakukan setelah pemantauan awan menunjukkan adanya awan potensial hujan yang dapat disemai.
Penurunan polusi setelah OMC dua hari, sebagaimana disampaikan Pramono, perlu dibaca dengan hati-hati. Hujan memang dapat menurunkan konsentrasi polutan untuk sementara, tetapi bila sumber pencemar tidak dikendalikan, kualitas udara dapat kembali memburuk begitu hujan berhenti dan aktivitas kembali normal.
Karena itu, OMC sebaiknya dipandang sebagai langkah pelengkap, bukan solusi utama. Solusi jangka panjang tetap terletak pada pengendalian emisi, mulai dari pembatasan kendaraan tua yang tidak lolos uji emisi, pengawasan industri, penambahan ruang terbuka hijau, hingga penguatan transportasi publik agar warga beralih dari kendaraan pribadi.
Pernyataan Pramono juga penting sebagai bentuk akuntabilitas publik. Ketika pemerintah daerah mengambil langkah darurat dengan biaya dan sumber daya yang tidak kecil, warga berhak mengetahui apakah langkah itu membuahkan hasil dan seberapa besar pengaruhnya terhadap kualitas udara yang mereka hirup.
Ke depan, pemantauan kualitas udara Jakarta perlu terus dipublikasikan secara terbuka, agar warga dapat menyesuaikan aktivitas luar ruangnya dan pemerintah dapat mengevaluasi langkah mana yang paling efektif, termasuk apakah OMC perlu dilanjutkan atau digantikan dengan langkah pengendalian sumber pencemar yang lebih mendasar.
Sumber: ANTARA. Baca berita aslinya di ANTARA.


