Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia Jusuf Kalla (JK) mengingatkan bahwa kecanggihan persenjataan militer tidak selalu menjamin kemenangan dalam peperangan. Peringatan itu ia sampaikan dalam forum di Yale, di tengah konflik Rusia-Ukraina dan ketegangan yang melibatkan Iran.
Pesan JK tersebut menyentuh perdebatan lama dalam kajian pertahanan: apakah perang dimenangkan oleh teknologi semata, atau oleh gabungan banyak faktor. Sejarah peperangan menunjukkan bahwa pasukan dengan persenjataan lebih modern tidak selalu keluar sebagai pemenang, terutama bila menghadapi lawan yang menguasai medan, memiliki dukungan rakyat, dan mampu bertahan lama.
Konflik Rusia-Ukraina menjadi contoh yang sering dirujuk dalam perdebatan ini. Di atas kertas, salah satu pihak memiliki keunggulan persenjataan yang jauh lebih besar, tetapi perang berjalan berlarut-larut dan menelan biaya besar bagi kedua belah pihak. Hal ini menunjukkan bahwa keunggulan teknologi harus dibarengi dengan strategi, logistik, dan ketahanan politik dalam negeri.
Ketegangan yang melibatkan Iran pun memperlihatkan hal serupa. Eskalasi militer di kawasan Teluk tidak hanya ditentukan oleh jumlah dan kecanggihan senjata, melainkan juga oleh perhitungan diplomatik, aliansi regional, dan risiko ekonomi global, terutama terkait pasokan energi.
Bagi Indonesia, pesan ini relevan dengan pembangunan pertahanan nasional. Indonesia tidak perlu terjebak dalam perlombaan senjata yang menguras anggaran, melainkan perlu membangun pertahanan yang sesuai dengan kebutuhan dan geografinya sebagai negara kepulauan. Pertahanan yang kuat bukan hanya soal alutsista, tetapi juga soal kesiapan personel, cadangan logistik, dan dukungan industri pertahanan dalam negeri.
JK sendiri dikenal sebagai tokoh yang kerap berbicara soal perdamaian dan penyelesaian konflik melalui dialog. Pengalamannya dalam menangani berbagai konflik di dalam negeri membuat pandangannya tentang perang tidak hanya bersifat teoretis, melainkan berpijak pada pengalaman nyata perundingan dan rekonsiliasi.
Forum di Yale tempat JK menyampaikan pandangan ini juga penting. Forum akademik internasional menjadi ruang bagi para tokoh dunia untuk menyampaikan pandangan yang melampaui kepentingan sesaat suatu negara, dan untuk mengingatkan publik dunia bahwa perang selalu membawa biaya kemanusiaan yang besar, siapa pun pemenangnya.
Pada akhirnya, pesan JK adalah ajakan untuk berpikir jernih: senjata canggih boleh dimiliki sebagai alat pertahanan, tetapi kemenangan sejati dalam konflik modern lebih sering ditentukan oleh strategi, ketahanan, dan kemampuan mengakhiri perang melalui jalan damai.
Foto ilustrasi: Republika
Sumber: Republika. Baca berita aslinya di Republika.


