Klaim bahwa Presiden Prabowo akan menutup program Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh Indonesia karena krisis ekonomi dinyatakan hoaks. Hasil penelusuran fakta menunjukkan narasi itu beredar melalui tangkapan layar yang dimanipulasi.
Unggahan yang beredar di Facebook pada Minggu, 18 Oktober 2026, itu meniru logo dan tata letak sebuah media daring, tetapi menggunakan jenis huruf yang berbeda. Penelusuran terhadap situs dan arsip berita media tersebut tidak menemukan satu pun artikel dengan judul yang diklaim. Pemimpin redaksi media itu pun menegaskan pihaknya tidak pernah membuat atau menerbitkan artikel dengan judul tersebut.
Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) justru terus memperbaiki pelaksanaan MBG. Pengawasan terhadap aparatur sipil negara dan petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diperkuat, termasuk penindakan bagi pelanggaran yang terbukti. Setiap SPPG juga diwajibkan menghubungkan CCTV dapur ke pusat monitoring agar penerapan standar operasional dapat diawasi langsung. Uji coba penyajian MBG secara prasmanan dikembangkan di 66 lokasi, disertai pengetatan standar higiene dan keamanan pangan.
Data hingga 30 September 2026 menunjukkan MBG telah menjangkau sekitar 57 juta penerima manfaat melalui 27.486 SPPG. Realisasi anggaran MBG mencapai Rp153,2 triliun atau sekitar 66,9 persen dari pagu efektif Rp229 triliun. Pemerintah menargetkan 72,4 juta penerima manfaat pada 2027.
Dengan bukti tersebut, klaim penutupan MBG karena krisis ekonomi tidak memiliki dasar. Program ini justru terus berjalan dan diperluas, dengan perbaikan pengawasan dan kualitas layanan sebagai fokus utama.


