BANDA ACEH — Kesenjangan geografis dalam pelayanan trauma di Aceh menjadi sorotan dalam sebuah forum internasional. Peneliti yang membahas persoalan ini menyoroti nasib pasien trauma ortopedi yang harus dirujuk dari Aceh Tenggara ke Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) di Banda Aceh.
Jarak rujukan yang jauh menjadi inti persoalan. Pasien trauma ortopedi dari Aceh Tenggara harus menempuh perjalanan panjang hingga ke ibu kota provinsi untuk mendapatkan layanan yang memadai, sebuah kondisi yang memperbesar risiko bagi pasien yang membutuhkan penanganan cepat.
Mengapa kesenjangan ini terjadi? Layanan trauma membutuhkan dokter spesialis ortopedi, peralatan, dan ruang perawatan yang memadai. Fasilitas semacam itu umumnya terkonsentrasi di rumah sakit besar di ibu kota provinsi, sementara kabupaten yang jauh dari pusat layanan belum memiliki kapasitas yang setara. Akibatnya, pasien dari daerah terpencil harus dirujuk, dengan waktu tempuh yang bisa menentukan keselamatan.
Bagaimana kesenjangan ini berdampak? Dalam kasus trauma, waktu adalah faktor penentu. Semakin lama pasien menunggu penanganan definitif, semakin besar risiko komplikasi, kecacatan, bahkan kematian. Rujukan jarak jauh juga membebani keluarga pasien dari sisi biaya, waktu, dan pendampingan.
Sorotan dalam forum internasional ini penting karena menempatkan persoalan Aceh dalam perbincangan global tentang keadilan layanan kesehatan. Kesenjangan geografis bukan hanya soal jarak, tetapi soal hak yang sama atas layanan kesehatan yang berkualitas, di mana pun warga tinggal.
Ke depan, penguatan layanan trauma di daerah menjadi pekerjaan rumah bersama: distribusi dokter spesialis yang lebih merata, peningkatan kapasitas rumah sakit kabupaten, serta sistem rujukan yang lebih cepat dan terkoordinasi. Dengan begitu, pasien trauma dari Aceh Tenggara tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan pertolongan yang layak.
Sumber: AJNN. Baca berita asli di sini.


