Wednesday, 28 October 2026
Teknologi

AI Kini Bisa Membongkar Identitas Anonim, Ini Cara Melindungi Diri

AI Kini Bisa Membongkar Identitas Anonim, Ini Cara Melindungi Diri

Kecerdasan buatan (AI) kini membuat praktik doxing menjadi jauh lebih mudah, murah, dan cepat. Doxing adalah upaya mencari dan menyebarkan data pribadi seseorang tanpa izin, dan AI mampu merangkai akun media sosial yang tersebar serta jejak digital sepele menjadi dosier yang terperinci.

Kaspersky menjelaskan lanskap privasi berubah karena AI dapat menghubungkan titik-titik data secara otomatis. Analis Open Measures mencatat tren yang mengkhawatirkan sejak Oktober 2025, ketika perkakas AI berbasis peramban dipakai untuk membongkar identitas aktivis, blogger, dan lawan diskusi di forum daring.

Salah satu contoh yang disebut adalah forum Soyjak.party, tempat pengguna memakai perkakas AI untuk mengotomatiskan pengumpulan intelijen sumber terbuka (OSINT) dari sumber terbuka dan basis data bocor. Riset pada Februari 2026 menemukan percakapan forum biasa saja sudah cukup bagi AI untuk mengungkap identitas, dengan mencocokkan detail pekerjaan, minat, dan latar belakang pribadi yang tersedia daring.

Perbandingan riset 2025 sampai 2026 menunjukkan perbedaan mencolok. OSINT konvensional bekerja dengan skrip tetap dan pencarian manual atau semi-otomatis, dengan akurasi bergantung pada keahlian penyelidik. Sementara doxing berbasis AI bekerja otomatis penuh dan mampu menghubungkan data secara spontan.

Dari 338 pengguna yang diteliti, sebanyak 226 orang berhasil diidentifikasi, atau sekitar 67 persen. Biayanya pun sangat murah, hanya sekitar Rp15.000 sampai Rp60.000 atau 1 sampai 4 dolar Amerika Serikat per target, jauh lebih terjangkau dibanding jasa penyelidik ahli.

Dampaknya tidak berhenti pada terbongkarnya nama. Korban sering berlanjut menjadi sasaran penguntitan, perundungan, dan pemerasan yang merusak reputasi dan rasa amannya.

Kaspersky memberi sejumlah tips perlindungan. Pertama, audit jejak digital dengan mencari nama, surel, dan nomor telepon sendiri, sambil berhati-hati agar layanan AI yang dipakai untuk audit itu tidak justru membocorkan data. Kedua, atur akun media sosial menjadi privat untuk menghambat perayap dan pengindeksan mesin pencari, serta tutup akun tidak aktif yang sudah lama ditinggalkan.

Ketiga, gunakan autentikasi dua faktor lewat aplikasi autentikator yang menghasilkan kode setiap 30 detik, dan sebisa mungkin hindari 2FA berbasis SMS. Keempat, hapus metadata seperti lokasi, tanggal, dan perangkat dari foto atau video sebelum diunggah ke publik. Kelima, gunakan pengelola kata sandi dengan kata sandi unik dan kompleks, bukan yang berbasis informasi pribadi seperti tanggal lahir. Terakhir, pantau kebocoran data secara berkala, misalnya lewat layanan yang memantau hingga 50 alamat surel, dan pastikan perlindungan yang dipakai aktif mencegah pengumpulan data pribadi saat menjelajah, bukan hanya melaporkan kebocoran yang sudah terjadi.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *