Wednesday, 28 October 2026
Nanggroe

Sawah Terendam Sepekan, Petani Aceh Tamiang Panen Manual dengan Perahu Terpal

Sawah Terendam Sepekan, Petani Aceh Tamiang Panen Manual dengan Perahu Terpal

BANDA ACEH — Petani di Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, terpaksa memanen padi secara manual dengan sabit di tengah genangan banjir yang masih merendam sawah mereka, Ahad (25/10/2026). Panen darurat ini dilakukan karena padi sudah memasuki masa panen, sementara air belum surut sepenuhnya.

Seorang petani Desa Teluk Halban, Sugiono (36), menceritakan bahwa sawahnya mulai terendam sejak tanggul sungai jebol di Desa Marlempang. Air yang meluap tidak hanya menggenangi persawahan, tetapi juga mencapai permukiman warga di sekitarnya.

“Sudah lebih dari sepekan sawah terendam. Awalnya ketinggian air sekitar satu meter lebih sehingga kami belum bisa memanen padi,” kata Sugiono. Petani baru bisa mulai memanen secara bertahap pada hari kesembilan setelah banjir, ketika air mulai memungkinkan mereka masuk ke sawah.

Keterlambatan itu berakibat langsung pada hasil panen. Batang padi yang terlalu lama terendam mulai membusuk dan bulirnya berguguran, sehingga sebagian hasil terancam hilang. Untuk menyelamatkan sisa panen, petani mengangkut padi yang sudah dipotong dengan perahu karet atau perahu berbahan terpal menuju daratan.

Cara manual itu terpaksa ditempuh karena mesin pemanen (combine) tidak dapat beroperasi di tengah genangan. Kondisi sawah yang berat, air yang berbau, serta rasa gatal yang ditimbulkan juga membuat petani kesulitan mendapatkan tenaga kerja. Akibatnya, proses panen yang biasanya cepat kini membutuhkan waktu hingga beberapa pekan.

Tekanan biaya ikut berubah. Sebelum banjir, ongkos panen mencapai Rp150 ribu per rantai. Dalam kondisi sekarang, petani dan pekerja memilih sistem bagi hasil dengan pembagian masing-masing 50 persen dari hasil panen. “Kalau tidak menggunakan sistem bagi hasil, padi kami terancam membusuk begitu saja karena tidak ada yang sanggup memanennya,” ujar Sugiono.

Menurut Sugiono yang juga Koordinator Kecamatan Kelompok Tani Merdeka, areal persawahan terdampak dikelola empat kelompok tani dengan luas masing-masing sekitar 25 hektare dan jumlah petani lebih dari 100 orang. Sebelum banjir, petani sudah berkoordinasi dengan petugas Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) untuk mengupayakan alat panen, dan sempat bergotong royong memperkuat tanggul seadanya, namun derasnya aliran air tidak mampu dibendung.

Datok Penghulu Desa Teluk Halban, Abdullah Boyak, menyebutkan genangan air mulai surut, tetapi sebagian besar persawahan masih terendam karena air belum dapat mengalir keluar secara optimal. Luas areal persawahan produktif di desa itu mencapai 62 hektare dengan pola tanam dua kali setahun, dan sekitar 70 persennya terdampak banjir saat tanaman hampir memasuki masa panen.

Bagi warga Teluk Halban, sawah adalah sumber penghidupan utama. Karena itu, percepatan surutnya air dan pemulihan tanggul menjadi penentu apakah sisa panen musim ini masih bisa diselamatkan, atau justru semakin banyak padi yang membusuk di sawah.

Sumber: ANTARA News Aceh — https://www.antaranews.com/berita/5810463/petani-di-aceh-tamiang-panen-padi-secara-manual-di-tengah-banjir

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *