Pasien ginjal kronis dan transplantasi memiliki risiko cacar api hingga delapan kali lipat dibanding orang sehat. Cacar api pada pasien ginjal kronis perlu diwaspadai karena penyakit ini bukan sekadar ruam kulit, melainkan bisa menimbulkan nyeri saraf berkepanjangan dan komplikasi serius lainnya.
Pasien penyakit ginjal kronis, khususnya mereka yang menjalani hemodialisis atau transplantasi ginjal, diingatkan untuk lebih waspada terhadap ancaman cacar api atau herpes zoster. Penyakit yang sering dianggap hanya berupa ruam kulit biasa ini ternyata menyimpan risiko komplikasi serius yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien secara drastis.
Berdasarkan studi observasional dari data asuransi kesehatan, pasien yang menjalani hemodialisis memiliki risiko terkena cacar api 35 persen lebih tinggi dibandingkan individu tanpa gangguan ginjal. Angka ini melonjak tajam pada penerima transplantasi ginjal, yang memiliki risiko hingga lebih dari delapan kali lipat.
Cacar Api pada Pasien Ginjal Kronis
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi, dr. Donnie Lumban Gaol, Sp.PD-KGH, menjelaskan kerentanan ini dipicu penurunan fungsi ginjal serta penggunaan obat imunosupresan atau penekan sistem imun. Obat tersebut memang diperlukan agar tubuh tidak menolak ginjal hasil transplantasi, tetapi sekaligus membuat daya tahan tubuh melemah.
“Cacar api bukan sekadar ruam dan nyeri. Penyakit ini dapat kambuh meskipun seseorang pernah mengalaminya,” ujar Donnie dalam edukasi Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia di Jakarta, Minggu, 8 November 2026.
Cacar api dipicu reaktivasi virus varicella-zoster, virus yang sama dengan penyebab cacar air. Saat daya tahan tubuh melemah, virus yang selama ini “tertidur” di dalam tubuh dapat kembali aktif. Salah satu dampak yang paling ditakuti adalah neuralgia pascaherpes, yakni nyeri saraf hebat yang bisa bertahan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah ruam kulit sembuh.
Selain nyeri saraf, Donnie memperingatkan risiko komplikasi lain seperti gangguan penglihatan hingga kebutaan, serta gangguan pendengaran dan keseimbangan jika infeksi menyebar ke organ tubuh lainnya.
Dampak nyata cacar api dirasakan Alma, seorang pasien transplantasi ginjal. Setahun pasca-transplantasi, ia terserang cacar api yang membuatnya tidak berdaya secara fisik dan emosional. “Saya merasa sangat tersiksa. Saya jadi lebih mudah marah dan itu berdampak pada keluarga. Bahkan untuk mandi saja saya butuh bantuan orang lain,” tuturnya.
Pengalaman serupa dialami Bantu, pasien hemodialisis sejak 2020. Pada 2025, ia sempat kritis selama 12 jam akibat serangan cacar api yang menyebar dari tulang rusuk hingga pinggang. Meski ruamnya telah hilang, hingga kini ia masih merasakan sensasi gatal dan nyeri di lokasi bekas ruam tersebut.
Tingginya risiko infeksi ini menjadi beban tambahan di tengah prevalensi penyakit ginjal kronis di Indonesia yang mencapai 10,3 persen menurut data Global Kidney Health Atlas 2023. Selain beban fisik, cacar api juga memberikan tekanan finansial yang signifikan bagi sistem kesehatan. Baca juga: Obat Inavolisib Kantongi Izin BPOM untuk Kanker Payudara
Baca juga: Stunting di Desa Bubung Banggai Turun Drastis ke 6 Persen
Apa poin penting dari berita ini?
- Pasien ginjal kronis dan transplantasi memiliki risiko cacar api hingga delapan kali lipat; pasien hemodialisis 35 persen lebih tinggi.
- Cacar api dipicu reaktivasi virus varicella-zoster saat daya tahan tubuh melemah akibat penurunan fungsi ginjal dan obat imunosupresan.
- Komplikasi yang ditakuti adalah nyeri saraf berkepanjangan, gangguan penglihatan hingga kebutaan, serta gangguan pendengaran dan keseimbangan.
- Prevalensi penyakit ginjal kronis di Indonesia mencapai 10,3 persen menurut Global Kidney Health Atlas 2023.


