Tuesday, 3 November 2026
Antariksa

Pergeseran Kecil Ungkap Capotauro Bukan Galaksi Purba, Melainkan Katai Cokelat Dingin

Citra inframerah Teleskop James Webb yang menunjukkan objek merah redup Capotauro dengan tanda bidik di posisinya

Sebuah objek merah redup yang sempat diduga sebagai salah satu galaksi pertama di alam semesta ternyata bukan galaksi sama sekali. Objek yang dijuluki Capotauro itu kini dipastikan sebagai katai cokelat dingin di dalam Galaksi Bima Sakti, setelah para astronom menemukan bahwa posisinya bergeser di antara dua pengamatan Teleskop Luar Angkasa James Webb yang berjarak sekitar tiga setengah tahun.

Temuan ini dilaporkan oleh F.-Y. F. Liu dari Universitas Edinburgh bersama rekan-rekannya dalam jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. Penelitian tersebut menjawab kebingungan yang sejak awal menyelimuti Capotauro, karena warna cahayanya bisa dibaca dengan dua cara yang sangat berbeda: sebagai galaksi purba yang sangat jauh, atau sebagai objek dingin yang jauh lebih dekat.

Capotauro pertama kali muncul dalam pengamatan Webb pada Desember 2022 sebagai bagian dari survei CEERS. Objek itu tampak pada citra inframerah gelombang panjang, tetapi menghilang pada gelombang yang lebih pendek. Pola seperti itu menarik perhatian para pemburu galaksi awal, karena gas hidrogen menyerap sebagian besar cahaya galaksi muda di bawah panjang gelombang tertentu, sehingga menciptakan batas yang tajam. Saat cahaya itu menempuh alam semesta yang mengembang, panjang gelombangnya meregang dan batas tersebut bergeser ke wilayah inframerah.

Dengan menafsirkan pola tersebut sebagai galaksi jauh, para peneliti sempat memperkirakan pergeseran merah Capotauro sekitar 32. Angka itu akan menempatkannya hanya sekitar 100 juta tahun setelah Big Bang, pada babak yang sangat awal dalam sejarah pembentukan galaksi. Namun, penelitian awal yang diterbitkan pada Februari di jurnal Astronomy and Astrophysics juga sudah membuka kemungkinan lain, yakni objek dingin di dalam galaksi kita sendiri.

Katai cokelat adalah objek yang massanya tidak cukup untuk menopang fusi hidrogen seperti yang terjadi di bintang. Jenis paling dingin, yang disebut katai Y, memiliki atmosfer yang mengandung air, metana, dan amonia. Molekul-molekul itu menyerap cahaya inframerah dalam rentang yang luas, sehingga menghasilkan lonjakan kecerahan pada gelombang yang lebih panjang yang dapat menyerupai batas cahaya galaksi jauh. Karena itu, warna saja terbukti bisa menyesatkan.

Uji yang menentukan justru datang dari gerak. Tim Liu membandingkan citra Webb dari Desember 2022 dengan pengamatan pada Juni 2026. Mereka menyelaraskan kedua citra itu menggunakan 68 sumber acuan yang kompak, lalu menyisipkan objek buatan ke dalam latar citra asli untuk menguji seberapa besar derau dapat menggeser hasil pengukuran posisi. Hasilnya, Capotauro bergeser sekitar 0,13 detik busur, sebuah sudut yang sangat kecil tetapi terdeteksi dengan signifikansi statistik melebihi enam sigma.

Galaksi yang sangat jauh seharusnya tampak diam terhadap latar belakang dalam rentang waktu tersebut. Sebaliknya, objek yang bergerak di dalam Bima Sakti dapat menunjukkan pergeseran persis seperti itu. Setelah itu, para peneliti membandingkan pola kecerahan inframerah Capotauro dengan katai cokelat yang sudah dikenal. Kecocokan terbaik menunjukkan suhu sekitar 350 Kelvin atau sekitar 77 derajat Celsius, dengan jarak kira-kira 2.400 tahun cahaya.

Suhu tersebut tergolong dingin untuk objek menyerupai bintang, meskipun jelas panas menurut ukuran sehari-hari. Pada jarak perkiraan itu, para penulis menyebut Capotauro sebagai salah satu katai Y terjauh yang ditemukan sejauh ini. Perkiraan itu sendiri masih mengandung ketidakpastian, karena objek pembanding yang tersedia belum mencakup kemungkinan paling dingin. Capotauro bisa saja lebih dingin, lebih redup secara intrinsik, dan lebih dekat daripada perkiraan awal.

Pengamatan lanjutan yang diatur waktunya dengan cermat dapat membantu mengukur jaraknya melalui perubahan posisi semu akibat perubahan sudut pandang Webb. Pengukuran semacam itu akan memperjelas gambaran tentang anggota redup Bima Sakti ini. Bagi para pemburu galaksi, reklasifikasi Capotauro juga membawa pelajaran penting: Webb mampu mengungkap objek dingin yang meniru kandidat galaksi awal paling ekstrem, dan kembali mengamati bidang langit yang sama dapat membedakan objek yang bergerak dari objek yang benar-benar berasal dari alam semesta jauh.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Objek Capotauro yang sempat diduga galaksi pertama ternyata adalah katai cokelat dingin di Bima Sakti.
  • Pergeseran posisi sekitar 0,13 detik busur antara pengamatan Desember 2022 dan Juni 2026 menjadi bukti penentunya.
  • Perkiraan terbaik menempatkan Capotauro pada suhu sekitar 350 Kelvin dan jarak kira-kira 2.400 tahun cahaya.
  • Warna saja bisa menyesatkan, karena katai Y dapat meniru pola cahaya galaksi yang sangat jauh.
  • Pengamatan ulang bidang langit yang sama membantu membedakan objek bergerak dari galaksi purba yang sesungguhnya.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *