Tuesday, 3 November 2026
Kesehatan

Para Pakar Jelaskan Bahaya Hirup Asap Kebakaran Hutan

Pengendara motor bermasker melintas di jalan yang diselimuti asap tebal kekuningan

Para pakar mengingatkan bahaya menghirup asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), setelah data Kementerian Kesehatan per 21 Oktober 2026 mencatat akumulasi 333.470 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di 68 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak karhutla. Peringatan itu disampaikan Yayasan Suara Sains Terbuka Indonesia (YSSTI) dalam siaran persnya pada Selasa, 3 November 2026.

Dari total kasus ISPA tersebut, sebanyak 75.172 kasus atau 22,5 persen menyerang balita usia 0 hingga 5 tahun, sementara 258.298 kasus atau 77,5 persen dialami warga berusia lebih dari lima tahun. Kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, hingga pekerja luar ruangan disebut paling terancam oleh kepungan asap tebal beracun yang terus berulang.

Pembina YSSTI, Herawati Supolo Sudoyo, menyoroti penanganan karhutla yang selama ini terlalu fokus pada upaya pemadaman titik api di lapangan. Padahal, dampak kesehatan pada warga yang menghirup asap saban hari membutuhkan perhatian yang tidak kalah mendesak, karena asap tidak berhenti menimbulkan risiko begitu api padam.

Tingkat pencemaran udara pun berada pada level ekstrem. Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) per 27 Oktober 2026 menunjukkan angka berbahaya, seperti di Banjarmasin dengan ISPU 1021 untuk PM10 dan di Kabupaten Kapuas dengan ISPU 660 untuk PM2,5. Angka-angka itu menggambarkan udara yang sangat tidak sehat untuk dihirup, terutama dalam waktu lama.

Herawati menjelaskan, paparan partikel halus PM2,5 secara berulang tidak hanya memicu dampak akut seketika seperti batuk dan serangan asma. Dalam jangka panjang, paparan tersebut juga membawa risiko penurunan fungsi organ, penyakit kardiovaskular, hingga gangguan tumbuh kembang anak di masa depan.

Karena itu, skema perlindungan kesehatan harus masuk dalam sistem kesiapsiagaan sejak sebelum asap datang, saat kebakaran terjadi, hingga pemantauan medis secara berlanjut setelah langit kembali cerah. Herawati yang juga Ketua Komisi Ilmu Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia menegaskan, lebih dari 333.000 kasus ISPA dalam dua bulan adalah peringatan keras bahwa terbiasa dengan asap tidak membuat tubuh kebal.

Ia menambahkan, perhatian selama ini terlalu sering tertuju pada titik api, sementara ratusan ribu warga yang menghirup asapnya luput dari perlindungan yang memadai. Perlindungan kesehatan masyarakat, kata dia, harus berjalan terus sejak sebelum asap datang hingga setelah langit kembali cerah.

Dari tapak terdampak, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalimantan Tengah, Janang Firman Palanungkai, menceritakan kondisi masyarakat di wilayah bencana karhutla. Cerita dari lapangan itu menegaskan bahwa dampak asap dirasakan langsung oleh warga sehari-hari, bukan sekadar angka dalam laporan.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Data Kementerian Kesehatan per 21 Oktober 2026 mencatat 333.470 kasus ISPA di 68 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak karhutla.
  • Sebanyak 75.172 kasus ISPA menyerang balita usia 0 hingga 5 tahun, dan 258.298 kasus dialami warga berusia lebih dari lima tahun.
  • ISPU per 27 Oktober 2026 mencapai level ekstrem, seperti Banjarmasin 1021 untuk PM10 dan Kabupaten Kapuas 660 untuk PM2,5.
  • Paparan PM2,5 berulang memicu batuk dan serangan asma, serta berisiko menurunkan fungsi organ, menyebabkan penyakit kardiovaskular, dan mengganggu tumbuh kembang anak.
  • Perlindungan kesehatan harus berjalan sejak sebelum asap datang, saat kebakaran terjadi, hingga pemantauan medis setelah langit kembali cerah.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *