Sunday, 1 November 2026
Antariksa

LUMINA, Asisten Kecerdasan Buatan yang Membantu Memilih Lokasi Pendaratan di Bulan

Bumi terbit di atas permukaan Bulan yang kelabu, ilustrasi misi pendaratan di Bulan

Sebuah sistem kecerdasan buatan bernama LUMINA sedang dikembangkan untuk membantu para perencana misi memilih lokasi pendaratan di Bulan yang paling aman dan paling bernilai ilmiah. Sistem ini dirancang oleh Gokce Inal, kandidat doktor di bidang teknik sipil, lingkungan, dan geodetik di Ohio State University, Amerika Serikat, dan dipresentasikan pada pertemuan tahunan ke-58 Divisi Ilmu Planet dari American Astronomical Society pada Oktober 2026.

Merencanakan misi luar angkasa bukanlah pekerjaan ringan. Jauh sebelum roket meluncur, misi membutuhkan persiapan ilmiah dan analisis data yang luar biasa banyak dan bisa memakan waktu bertahun-tahun. Tantangan itu makin besar ketika badan antariksa berlomba membangun kehadiran permanen di Bulan. Di sinilah kecerdasan buatan diharapkan berperan: menggabungkan jutaan citra dan kumpulan data menjadi satu sistem yang bisa membantu manusia mengambil keputusan dengan lebih cepat dan lebih teliti.

LUMINA dibangun di atas model fondasi penglihatan-bahasa untuk Bulan yang sebelumnya dikembangkan tim yang sama, bernama LLaVA-LE, yang mampu mendeskripsikan medan Bulan dan menjawab pertanyaan ilmiah tentangnya. LUMINA melangkah lebih jauh: sistem ini dapat merencanakan dan menjalankan analisis bertahap, mengevaluasi calon lokasi pendaratan, serta menjelaskan bukti di balik rekomendasinya. Hasil awal menunjukkan kemampuan yang kuat dalam melakukan pengamatan kompleks di Bulan dan menghasilkan komentar ilmiah yang bermakna untuk setiap calon lokasi, termasuk membantu menemukan wilayah yang kaya es air dan sumber daya lain.

Yang membedakan LUMINA dari banyak alat kecerdasan buatan lain, menurut Inal, adalah sifatnya yang aktif. Kebanyakan alat kecerdasan buatan bersifat pasif: pengguna bertanya, alat menjawab. LUMINA justru dirancang sebagai asisten ilmiah aktif yang ikut mengerjakan masalah bersama para ahli, bukan mesin semi-otonom yang menggantikan penilaian manusia. Sistem ini dimaksudkan bekerja berdampingan dengan perencana misi, yang tetap memegang keputusan akhir.

Kebutuhan semacam ini sangat nyata di Bulan. Permukaan Bulan penuh bahaya: kawah, bongkahan batuan, lereng curam, dan wilayah yang gelap total. Pendaratan di Bulan disebut lebih sulit hari ini dibandingkan sebelumnya, antara lain karena target misi kini bergeser ke wilayah kutub yang lebih menantang namun kaya sumber daya. Asisten yang mampu memilah data, menandai bahaya, dan menunjukkan wilayah yang bernilai ilmiah dapat mengurangi risiko bagi awak yang kelak mendarat di lingkungan yang sangat keras itu.

Meski dibuat untuk Bulan, kemampuan LUMINA tidak berhenti di sana. Rekan penulis studi ini, Profesor Alper Yilmaz dari Ohio State University, menjelaskan bahwa model peta semacam ini bisa digeneralisasi ke permukaan benda langit lain, termasuk Mars dan sejumlah asteroid. Saat ini belum banyak model peta bergaya GPT yang dikembangkan khusus untuk eksplorasi antariksa, sehingga tim ini berupaya membangun satu sistem yang bisa dipakai lintas permukaan planet.

Ke depan, tim berencana menguji LUMINA pada data Bulan berkualitas tinggi yang baru dan mengevaluasi lebih lanjut seberapa baik sistem ini mendukung perencana misi. Program Artemis milik NASA disebut membuka peluang penting bagi riset semacam ini, karena data Bulan baru yang dihasilkan program tersebut dapat terus meningkatkan kemampuan sistem dan membantu misi-misi berikutnya. Dengan kata lain, semakin banyak data yang tersedia, semakin tajam pula mata kedua yang membantu manusia memilih tempat berpijak di dunia lain.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Sistem kecerdasan buatan LUMINA dikembangkan di Ohio State University untuk membantu memilih lokasi pendaratan di Bulan yang aman dan bernilai ilmiah.
  • LUMINA dibangun di atas model LLaVA-LE dan dapat menjalankan analisis bertahap, mengevaluasi calon lokasi, serta menjelaskan bukti di balik rekomendasinya.
  • Sistem ini dirancang sebagai asisten ilmiah aktif yang bekerja bersama perencana misi, bukan menggantikan penilaian manusia.
  • Hasil awal menunjukkan LUMINA mampu membantu menemukan wilayah yang kaya es air dan sumber daya lain di Bulan.
  • Kemampuannya direncanakan diperluas ke Mars dan asteroid, serta diuji dengan data Bulan baru dari program Artemis NASA.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *