Pengamat telekomunikasi Heru Sutadi mendorong penguatan literasi etika pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) di kalangan generasi muda. Dorongan itu disampaikan sebagai pengingat bahwa kemampuan memakai teknologi harus diimbangi pemahaman tentang cara memakainya secara bertanggung jawab.
Kecerdasan artifisial kini hadir dalam kehidupan sehari-hari generasi muda: mesin pencari, media sosial, aplikasi belajar, hingga alat bantu membuat tugas dan karya. Kemudahan itu membuat AI terasa seperti alat biasa, padahal di baliknya ada persoalan data, keaslian karya, dan penyebaran informasi.
Mengapa literasi etika AI menjadi penting? Tanpa pemahaman etika, pengguna muda dapat tanpa sadar menyebarkan informasi palsu yang dibuat AI, menyerahkan data pribadi secara berlebihan, atau mengklaim karya buatan mesin sebagai karya sendiri. Literasi etika membantu mereka bertanya sebelum membagikan: apakah ini benar, apakah ini adil, dan apakah ini merugikan orang lain.
Bagaimana literasi etika AI dapat dibangun? Sekolah dan kampus dapat memasukkan pembahasan etika digital ke dalam pembelajaran, orang tua dapat mendampingi penggunaan gawai anak, dan platform teknologi dapat menyediakan penjelasan yang mudah dipahami tentang cara kerja AI. Kombinasi ketiganya lebih efektif daripada sekadar melarang.
Bagi generasi muda, literasi etika juga merupakan bekal karier. Dunia kerja masa depan akan menilai bukan hanya siapa yang bisa memakai AI, tetapi siapa yang bisa memakainya secara cermat, jujur, dan sesuai aturan. Kemampuan itu menjadi pembeda di tengah banyaknya pengguna teknologi.
Pada akhirnya, AI adalah alat yang nilainya ditentukan oleh penggunanya. Generasi muda yang melek etika akan mampu memanfaatkan AI untuk belajar, berkarya, dan berwirausaha tanpa mengorbankan kejujuran dan hak orang lain.
Apa poin penting dari berita ini?
- Pengamat telekomunikasi Heru Sutadi mendorong penguatan literasi etika AI bagi generasi muda.
- AI kini hadir dalam mesin pencari, media sosial, aplikasi belajar, hingga alat bantu berkarya.
- Tanpa literasi etika, pengguna dapat menyebarkan informasi palsu atau menyerahkan data pribadi secara berlebihan.
- Literasi etika dibangun lewat pembelajaran, pendampingan orang tua, dan penjelasan platform yang mudah dipahami.


