Pedagang cilor hingga takoyaki mengeluhkan kenaikan harga tepung tapioka dan tepung terigu yang terus menekan usaha mereka. Meski biaya produksi membengkak, sebagian pedagang memilih mempertahankan porsi dagangan demi menjaga kepuasan pelanggan yang sudah setia membeli setiap hari.
Kenaikan harga tepung menjadi persoalan nyata bagi pelaku usaha makanan berbahan dasar aci. Tepung tapioka yang sebelumnya berada di kisaran Rp8.000 hingga Rp10.000 per kilogram dilaporkan menembus sekitar Rp16.000 per kilogram. Dalam hitungan karung, kenaikannya disebut mencapai hampir Rp100.000 per karung, sehingga modal usaha kecil ikut membengkak dalam waktu singkat.
Dampaknya terasa pada berbagai lapis usaha. Pembuat kerupuk, pedagang cilok, cireng, cimol, cilor, hingga takoyaki sama-sama menghadapi tekanan yang sama. Sebagian pedagang terpaksa mengecilkan ukuran produk, sebagian menaikkan harga jual, dan sebagian lagi mengurangi frekuensi produksi karena harga jual yang tidak bisa dinaikkan sebanding dengan lonjakan bahan baku.
Keluhan itu juga ramai di media sosial. Sebuah unggahan di platform X pada 26 Oktober 2026 yang mengingatkan konsumen bahwa pedagang cimol, cilok, cilor, dan cireng mungkin tidak berjualan karena terdampak kenaikan harga tepung menarik perhatian luas. Hingga 28 Oktober 2026, unggahan tersebut telah memperoleh sekitar 265.000 tayangan, lebih dari 3.000 kali dibagikan ulang, dan 13.000 tanda suka.
Di sisi lain, harga singkong di tingkat petani justru dilaporkan naik. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam rapat koordinasi terbatas pangan di Jakarta pada 26 Oktober 2026 menyebut harga singkong di tingkat petani telah mencapai sekitar Rp3.000 per kilogram, naik dari sekitar Rp700 per kilogram. Pemerintah juga berencana mendorong ekspor singkong dalam bentuk olahan tepung mocaf.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan pelaku usaha kecil. Di satu sisi, harga bahan baku di tingkat petani membaik. Di sisi lain, harga tepung tapioka di pasar justru melambung dan pasokannya dirasakan semakin terbatas. Sejumlah pedagang mengaku mendapat penjelasan dari distributor bahwa kenaikan tersebut berkaitan dengan banyaknya perusahaan tapioka yang mengekspor produknya ke luar negeri, salah satunya ke China.
Para pelaku usaha berharap harga tepung kembali stabil. Bagi pedagang kecil, stabilitas harga bukan sekadar soal untung rugi harian, melainkan soal keberlangsungan usaha dan nasib karyawan yang ikut menggantungkan penghasilan pada produksi setiap hari. Sebagian produsen kerupuk bahkan mengaku kini hanya berproduksi tiga hingga empat hari dalam sepekan, padahal sebelumnya bisa berproduksi penuh selama tujuh hari.
Kenaikan harga juga tidak hanya menyasar tepung tapioka. Warganet turut menyoroti kenaikan harga bahan pangan lain seperti tepung terigu, tepung beras, dan tepung ketan. Perlu dicatat, berbagai angka kenaikan yang beredar di kalangan pedagang dan warganet merupakan laporan dari lapangan dan belum mencerminkan data harga nasional yang telah terverifikasi secara resmi. Namun, keluhan yang berulang dari berbagai daerah menjadi alarm bahwa persoalan ini layak mendapat perhatian dan penelusuran lebih lanjut dari pemerintah.
Apa poin penting dari berita ini?
- Pedagang cilor hingga takoyaki mengeluhkan kenaikan harga tepung tapioka dan tepung terigu yang terus menekan usaha mereka.
- Meski biaya produksi membengkak, sebagian pedagang memilih mempertahankan porsi dagangan demi menjaga kepuasan pelanggan.
- Tepung tapioka yang sebelumnya berada di kisaran Rp8.000 hingga Rp10.000 per kilogram dilaporkan menembus sekitar Rp16.000 per kilogram.
- Sebagian pedagang terpaksa mengecilkan ukuran produk, menaikkan harga jual, dan mengurangi frekuensi produksi.
- Para pelaku usaha berharap harga tepung kembali stabil demi keberlangsungan usaha dan nasib karyawan.


