Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, menjadi pembicara dalam konferensi internasional bertajuk Persatuan Bangsa Moderat: Dari Konstanta Menuju Piagam Persatuan di Istanbul, Turki. Dalam forum yang diselenggarakan International Union of Muslim Scholars tersebut, Kiai Cholil menyampaikan pesan bahwa persatuan umat tidak harus menyatukan doktrin.
Konferensi yang berlangsung pada 28 hingga 30 Oktober 2026 itu diikuti para ulama, pemikir, dan pemimpin Islam dari lebih dari 30 negara. Forum ini membahas penguatan persatuan umat Islam, upaya mengatasi perpecahan, serta pengembangan kerja sama konkret di antara berbagai elemen umat. Para peserta juga bertukar pandangan mengenai rancangan Piagam Umat Wasathiyah serta menyampaikan catatan dan usulan untuk memperkaya substansinya.
Pada Kamis, 29 Oktober 2026 waktu setempat, Kiai Cholil menyampaikan makalah berbahasa Arab bertajuk Membangun Persatuan Umat yang Wasathi. Ia memaparkan rekam jejak dan keberhasilan bangsa Indonesia dalam merawat persatuan nasional melalui paham Islam Wasathiyah atau moderat. Menurutnya, pengalaman empiris Indonesia dalam mengintegrasikan pemahaman agama yang moderat dengan falsafah Pancasila terbukti mampu menjaga keharmonisan di tengah keberagaman suku, budaya, mazhab, dan agama.
Kiai Cholil menegaskan bahwa umat Muslim perlu meneguhkan nilai-nilai universal Islam, seperti keadilan, kasih sayang, keseimbangan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan perdamaian, seraya membuka ruang ijtihad untuk merespons perubahan zaman. Ia merangkum sikap itu dalam kalimat, teguh dalam nilai, adaptif dalam solusi, dan inklusif dalam kerja sama. Baginya, Wasathiyah menyajikan kerangka etis yang sangat dibutuhkan untuk menjawab berbagai krisis dan tantangan global saat ini, seperti polarisasi sosio-politik, konflik horizontal, intoleransi, ketimpangan sosial, hingga disrupsi teknologi.
Ia juga menyoroti peran moderasi beragama yang diterapkan di Indonesia sebagai bukti nyata bahwa persatuan nasional dapat diwujudkan tanpa harus mengorbankan kebinekaan. Pengalaman Indonesia melalui Islam Wasathiyah dan peran MUI menunjukkan pentingnya membangun persatuan tanpa menyeragamkan pemikiran, serta mengelola keragaman tanpa mengorbankan prinsip. Kiai Cholil, yang juga pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah di Depok, Jawa Barat, mengajak komunitas internasional untuk mengadopsi nilai-nilai Islam Wasathiyah sebagai ikhtiar kolektif dalam mewujudkan tatanan dunia yang lebih adil, damai, dan bermartabat.
Menurutnya, kunci perdamaian dunia terletak pada pemahaman dasar bahwa persatuan tidak menuntut keseragaman, pembaruan tidak harus menghilangkan prinsip agama, dan perbedaan pandangan tidak boleh berujung pada konflik destruktif. Melalui forum internasional ini, penguatan persatuan umat diharapkan tidak hanya diwujudkan melalui kesepakatan pemikiran dan penyusunan piagam bersama, tetapi juga melalui tindakan nyata untuk menjawab persoalan kemanusiaan, ketidakadilan sosial, dan krisis lingkungan.
Apa poin penting dari berita ini?
- KH M Cholil Nafis menjadi pembicara dalam konferensi internasional di Istanbul, Turki, dan menyampaikan bahwa persatuan umat tidak harus menyatukan doktrin.
- Konferensi International Union of Muslim Scholars pada 28 hingga 30 Oktober 2026 diikuti ulama dan pemikir dari lebih dari 30 negara.
- Kiai Cholil menyampaikan makalah Membangun Persatuan Umat yang Wasathi dan memaparkan keberhasilan Indonesia merawat persatuan lewat Islam moderat dan Pancasila.
- Ia menekankan nilai keadilan, kasih sayang, keseimbangan, martabat manusia, dan perdamaian, dengan sikap teguh dalam nilai, adaptif dalam solusi, dan inklusif dalam kerja sama.
- Persatuan diharapkan diwujudkan bukan hanya lewat piagam bersama, tetapi juga tindakan nyata atas persoalan kemanusiaan, ketidakadilan sosial, dan krisis lingkungan.


