Para peneliti di Kanada mengembangkan bahan bakar berbentuk gel yang dirancang untuk menjawab salah satu dilema lama dalam propulsi antariksa: bahan bakar harus tetap stabil selama disimpan, tetapi juga harus mengalir dengan mudah saat mesin membutuhkannya. Bahan baru ini berbasis minyak tanah dan, menurut para pengembangnya, bisa membuat penyimpanan serta pengendalian bahan bakar roket dan satelit menjadi lebih mudah.
Masalahnya sudah lama dikenal para insinyur. Bahan bakar cair di dalam tangki bisa bergoyang dan berpindah-pindah selama wahana bergerak, dan gerakan itu mempersulit pengendalian wahana. Di sisi lain, bahan bakar gel konvensional memang lebih stabil, tetapi sering sulit dipompa dan disemprotkan ke dalam mesin untuk dibakar. Formulasi baru ini berusaha menyeimbangkan dua tuntutan yang saling bertentangan tersebut.
Gel itu dibuat dengan menggabungkan minyak tanah dengan lesitin, zat yang mudah terbakar dan berasal dari bahan alami, ditambah sedikit kalsium klorida. Kombinasi ini diuji oleh peneliti Pranay Mudaliar dan Jerin John, dosen madya bidang Teknik Mesin, Industri, dan Dirgantara di Universitas Concordia. Hasil penelitian mereka diterbitkan di jurnal Langmuir pada 2026.
Pengujian dilakukan untuk melihat bagaimana gel merespons gaya, suhu, dan perubahan kimia. Hasil yang paling mencolok adalah perubahan kekentalannya: ketika dikenai gaya yang semakin besar, kekentalan gel turun sekitar 100 kali lipat, sehingga gel mengalir jauh lebih mudah dalam kondisi yang dibutuhkan untuk penyemprotan bahan bakar ke mesin. Sebaliknya, saat diam, gel berperilaku lebih seperti padatan lunak, sehingga gerakan bahan bakar yang tidak diinginkan dan kebocoran berpotensi berkurang.
Stabilitasnya juga menonjol. Sampel gel yang disimpan dalam wadah tertutup tetap stabil selama lebih dari satu tahun tanpa pemisahan yang terlihat. Bagi misi antariksa yang bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun antara pengisian bahan bakar dan pemakaian, ketahanan seperti ini adalah syarat penting. Selain itu, tampilannya yang bening memberi keuntungan praktis bagi peneliti: mereka bisa mengamati secara langsung bagaimana bahan bakar bergerak dan terbakar selama pengujian.
Para peneliti sendiri menegaskan batas temuan ini dengan jujur. Penelitian yang dilakukan sejauh ini memetakan secara rinci bagaimana gel berperilaku dalam berbagai kondisi dan membantu mengidentifikasi sifat-sifat yang dibutuhkan untuk penyimpanan dan penyaluran bahan bakar yang andal. Namun, gel ini belum diuji dalam sistem propulsi yang sesungguhnya, sehingga kinerjanya dalam penerbangan antariksa nyata masih harus dibuktikan lewat pengujian lanjutan.
Jika pengujian lanjutan itu berhasil, bahan bakar gel semacam ini bisa menjadi pilihan menarik untuk roket dan satelit masa depan, terutama karena ia menawarkan jalan tengah: tenang saat disimpan, lancar saat dipakai. Untuk sekarang, temuan ini adalah fondasi yang menjanjikan, bukan teknologi yang sudah siap terbang.
Apa poin penting dari berita ini?
- Peneliti Universitas Concordia mengembangkan gel bahan bakar berbasis minyak tanah, lesitin, dan sedikit kalsium klorida untuk propulsi roket dan satelit, dengan hasil yang diterbitkan di jurnal Langmuir pada 2026.
- Gel ini menjawab dilema lama: bahan bakar cair mudah bergoyang di tangki dan mengganggu kendali wahana, sementara gel konvensional sulit dipompa dan disemprotkan ke mesin.
- Saat dikenai gaya yang semakin besar, kekentalan gel turun sekitar 100 kali lipat sehingga mengalir mudah untuk penyemprotan, sedangkan saat diam gel berperilaku seperti padatan lunak yang mengurangi gerakan dan kebocoran.
- Sampel gel tetap stabil lebih dari satu tahun dalam wadah tertutup tanpa pemisahan yang terlihat, dan tampilannya yang bening membantu peneliti mengamati gerakan dan pembakaran bahan bakar.
- Pengujian dalam sistem propulsi yang sesungguhnya masih dibutuhkan, sehingga kinerja gel ini dalam penerbangan antariksa nyata belum terbukti.


