Saturday, 31 October 2026
Hollywood

55 Tahun The Devils: Film Kontroversial Ken Russell yang Kini Terasa Lebih Relevan

Adegan film The Devils karya sutradara Ken Russell

Sebuah kolom film Variety yang terbit pada akhir Oktober 2026 mengajak penonton menengok ulang The Devils, film kontroversial karya sutradara Ken Russell yang pertama kali dirilis pada 1971. Setelah puluhan tahun hanya dikenal sebagai karya transgresif yang gemar mengusik, film itu kini dinilai kembali sebagai sebuah film yang hebat, dan justru terasa lebih relevan dengan dunia masa kini dibandingkan saat pertama kali tayang.

Ketika dirilis pada 1971, The Devils berada di garis depan gelombang sinema ekstrem yang muncul dari budaya tanding. Pada tahun yang sama, penonton juga menyaksikan A Clockwork Orange karya Stanley Kubrick dan Straw Dogs karya Sam Peckinpah. Di tengah arus itu, The Devils kerap dipandang sekadar sebagai latihan blasphemi dan horor ekstrem yang mewah. Penilaian ulang terbaru justru berpendapat sebaliknya: di balik segala kontroversi yang dulu menutupinya, tersimpan sebuah film yang digarap dengan sangat baik.

Film ini berlatar Prancis abad ke-17 dan berpusat pada seorang pastor Katolik yang diperankan dengan penuh daya ledak oleh Oliver Reed. Sang pastor menjalani kehidupan yang bertentangan dengan citra kesalehan, dan hal itu membuatnya menjadi sasaran para penguasa. Untuk menjatuhkannya, para utusan raja menyusun rencana yang memanfaatkan obsesi para biarawati Biara Ursuline terhadap sang pastor, dengan kepala biara Sister Jeanne des Anges yang diperankan Vanessa Redgrave sebagai pusat pusaran itu.

Sejak sekuens pembuka yang menampilkan pementasan barok Birth of Venus dengan iringan musik Bourree dAvignon dan Raja Louis XIII yang diperankan Graham Armitage dalam balutan drag semi telanjang, film ini memikat penonton dengan gambaran dekadensi yang matang. Namun pesona itu bukan sekadar pamer. Menurut penilaian ulang tersebut, kegilaan The Devils justru terletak pada caranya mengubah penindasan politik menjadi teater politik yang penuh mimpi buruk erotis, untuk menggambarkan satu gagasan: para pemimpin yang fasis akan menempuh segala cara demi mencapai tujuannya, menciptakan kekacauan, lalu memanfaatkannya.

Relevansi itu kini terasa semakin kuat karena film tersebut telah mendapat restorasi skala penuh dan dirilis ulang oleh Warner Bros. Clockwork, sebuah divisi dari Warner Bros. Penonton masa kini yang menyaksikan versi restorasi itu diajak melihat bahwa kontroversi lama film ini bukanlah satu-satunya warisannya. Di balik citra liarnya, The Devils menyimpan komentar politik yang tajam tentang bagaimana kekuasaan bekerja: menuduh, mempermalukan, dan menghancurkan lewat tontonan publik.

Penilaian ulang ini juga mengingatkan bahwa film-film yang dulu dianggap berbahaya tidak lantas menjadi jinak hanya karena zaman sudah mengejarnya. The Devils tetap terasa mengganggu, tetapi gangguan itu kini dibaca sebagai kekuatan, bukan sekadar sensasi. Lima puluh lima tahun setelah rilisnya, film tentang pastor, biarawati, dan raja di Prancis abad ke-17 itu masih mampu memantik perdebatan tentang kekuasaan, moralitas, dan batas-batas seni.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Sebuah kolom film Variety mengajak penonton menengok ulang The Devils, film Ken Russell yang dirilis pada 1971.
  • Film itu dulu kerap dipandang sekadar sebagai karya transgresif, tetapi penilaian ulang menyebutnya sebagai sebuah film yang hebat.
  • Film ini berlatar Prancis abad ke-17 dan berpusat pada seorang pastor Katolik yang diperankan Oliver Reed.
  • Para utusan raja menyusun rencana menjatuhkan sang pastor dengan memanfaatkan obsesi para biarawati Biara Ursuline.
  • The Devils telah mendapat restorasi skala penuh dan dirilis ulang oleh Warner Bros. Clockwork.
  • Kegilaan film ini dibaca sebagai komentar politik tentang bagaimana kekuasaan menciptakan kekacauan lalu memanfaatkannya.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *