Sunday, 1 November 2026
Antariksa

Misi Teleskop Swift NASA Resmi Berakhir Setelah 22 Tahun, Gagal Diselamatkan Wahana Swasta

Ilustrasi teleskop luar angkasa Swift milik NASA yang mengorbit Bumi

Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, resmi mengakhiri misi teleskop luar angkasa Swift setelah lebih dari 22 tahun mengabdi. Pengumuman itu disampaikan NASA pada Jumat, 23 Oktober 2026, setelah upaya penyelamatan oleh perusahaan swasta gagal dan teleskop tersebut terus jatuh perlahan menuju atmosfer Bumi.

Swift, yang belakangan resmi bernama Observatorium Neil Gehrels Swift, diluncurkan ke orbit Bumi pada November 2004. Tugas awalnya adalah mempelajari ledakan sinar gamma, ledakan paling kuat di alam semesta. Misi yang dirancang hanya untuk dua tahun itu ternyata bertahan lebih dari dua dekade dan mengubah cara para astronom mempelajari langit yang berubah dengan cepat.

Selama masa tugasnya, Swift mengamati lebih dari 2.000 ledakan sinar gamma dan lebih dari 1.400 ledakan supernova. Teleskop ini juga mengamati asteroid, komet, dan lubang hitam, serta melakukan survei seluruh langit dalam cahaya sinar-X. Data yang dikumpulkannya telah dipakai dalam sekitar 7.000 makalah ilmiah, dan jumlah itu diperkirakan terus bertambah karena arsip datanya tetap bisa diteliti para ilmuwan.

Mengapa misi ini harus berakhir? Swift tidak memiliki pendorong yang mampu melawan gesekan atmosfer yang perlahan menurunkan orbitnya. Pada September 2025, NASA memberi kontrak kepada perusahaan Arizona, Katalyst Space Technologies, untuk mencoba menyelamatkan observatorium itu. Katalyst membangun wahana sebesar kulkas bernama LINK yang dirancang untuk mendekati Swift, mencengkeramnya dengan tiga lengan robot, lalu mendorongnya ke orbit yang lebih tinggi.

Upaya itu sejak awal diakui berisiko tinggi. LINK meluncur pada 3 Juli 2026, kurang dari sepuluh bulan setelah kontrak senilai 30 juta dolar Amerika itu diberikan. Sekitar tiga minggu setelah lepas landas, wahana tersebut mengalami gangguan pada sistem propulsi dan roda reaksi yang menjaga orientasinya, sehingga ia berputar lebih cepat dari yang direncanakan. Gangguan itu membuat LINK gagal menangkap Swift, meski sempat mendekat hingga jarak 12 sampai 15 kilometer dan memotret observatorium tersebut.

Pada 25 September 2026, LINK ikut jatuh kembali ke Bumi. NASA kemudian menyatakan data ilmiah terakhir Swift dikumpulkan pada 20 Oktober 2026. Teleskop itu diperkirakan memasuki kembali atmosfer Bumi dalam beberapa pekan setelah pengumuman berakhirnya misi, dan sebagian besar strukturnya diperkirakan terbakar habis di atmosfer.

Meski misi penyelamatannya gagal, NASA menilai upaya itu tetap berharga. Percobaan tersebut menguji teknologi perawatan wahana antariksa, menantang tim untuk bekerja dalam tenggat yang belum pernah dicoba, dan menguji cara mengoperasikan satelit agar lebih lama bertahan di orbit rendah Bumi. Bagi dunia astronomi, warisan terbesar Swift adalah arsip pengamatannya yang akan terus melahirkan penemuan baru selama puluhan tahun ke depan.

Apa poin penting dari berita ini?

  • NASA resmi mengakhiri misi teleskop Swift pada 23 Oktober 2026 setelah lebih dari 22 tahun bertugas sejak peluncurannya pada November 2004.
  • Upaya penyelamatan oleh wahana LINK milik Katalyst Space Technologies gagal karena gangguan propulsi dan orientasi, sehingga Swift terus jatuh menuju atmosfer Bumi.
  • Selama bertugas, Swift mengamati lebih dari 2.000 ledakan sinar gamma dan 1.400 supernova, dan datanya telah dipakai dalam sekitar 7.000 makalah ilmiah.
  • Meski gagal diselamatkan, upaya itu dinilai berharga karena menguji teknologi perawatan wahana antariksa, dan arsip data Swift akan terus dipakai para ilmuwan selama puluhan tahun.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *