Setelah lima hari hidup dan bekerja di bawah laut, komandan Dr. Michaela Musilova dan kru misi SEA STAR akhirnya kembali ke permukaan. Kisah kepulangan mereka dari “stasiun luar angkasa basah” itu ditulis Musilova sendiri dan diterbitkan pada 30 Oktober 2026, menutup misi analog luar angkasa yang dijalani di Jules’ Undersea Lab, dekat Key Largo, Florida, pada kedalaman 22 kaki atau sekitar tujuh meter di bawah permukaan laut.
Aquanaut adalah penjelajah bawah laut yang bertahan di bawah air lebih dari 24 jam tanpa kembali ke permukaan, dalam kondisi yang disebut saturasi. Dalam kondisi itu, jaringan tubuh menyerap gas lembam seperti nitrogen hingga jumlah maksimum untuk kedalaman dan tekanan tertentu. Istilahnya berasal dari bahasa Latin “aqua” yang berarti air dan bahasa Yunani “nautes” yang berarti pelaut. Pada akhir misi SEA STAR, seluruh kru resmi menyandang gelar tersebut.
Mengapa berlatih di bawah laut untuk pergi ke luar angkasa? Karena hanya sedikit astronaut yang bisa dikirim ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dengan jumlah kegiatan penelitian yang terbatas, stasiun bawah laut menawarkan cara berharga untuk menjalankan misi analog, yakni misi simulasi luar angkasa, tanpa harus meninggalkan Bumi. Kru SEA STAR hidup seperti kru ISS: mereka bekerja dengan jadwal ketat, melakukan “spacewalk” berupa penyelaman scuba, dan mengatasi masalah sehari-hari di habitat yang terisolasi.
Tantangannya nyata. Musilova menulis bahwa kru harus menghadapi suara bising tanpa henti dari sistem pendukung kehidupan yang menjaga mereka tetap hidup di bawah air, masalah pipa kamar mandi, serta kekhawatiran kesehatan yang terkait dengan hidup di bawah tekanan. Saat melakukan penyelaman, mereka juga harus sangat berhati-hati karena jarak pandang di lingkungan sekitar yang rendah.
Penelitian menjadi inti misi ini. Proyek ilmiah Musilova meneliti apakah kemampuan kognitif dan waktu reaksi berubah di bawah tekanan, bekerja sama dengan Center for Hyperbaric Medicine, Fakultas Kedokteran Universitas Ostrava, dan City Hospital Ostrava di Republik Ceko. Kru merasakan sendiri waktu respons mereka terhadap tes-tes itu melambat selama misi dibandingkan sebelumnya.
Penelitian lain menguji benih microgreens di bawah tekanan. Health & Safety Officer kru, Dr. Brandy Nunez, menumbuhkan sebagian kale dan campuran salad super sebelum misi dimulai, sementara benih lain memulai pertumbuhannya di bawah air. Semua benih dibawa ke stasiun bawah laut dengan dua pengaturan tekanan yang berbeda, yakni pelepasan tekanan bertahap dan mendadak selama penurunan. Setelah panen, benih yang mengalami pelepasan mendadak menunjukkan barotrauma, yakni kerusakan akibat kenaikan tekanan udara yang tiba-tiba.
Anggota kru lainnya mengerjakan proyek yang tak kalah spesifik. Executive Officer Paul Bakken meneliti pengelolaan tekanan internal wadah transfer logistik saat terpapar perubahan tekanan lingkungan yang besar. Sementara itu, Mission Specialist Jenn Pint bekerja sama dengan Interstellar Performance Labs untuk menyusun taksonomi dalam menganalisis faktor interaksi lingkungan dan kru selama misi simulasi luar angkasa. Kru juga melakukan eksperimen daya apung netral selama penyelaman dan menguji sensor lingkungan buatan siswa sekolah menengah dan mahasiswa di Slowakia, yang memberi informasi tambahan tentang kondisi habitat simulasi mereka.
Seperti astronaut di ISS, kru SEA STAR juga meluangkan waktu untuk kegiatan edukasi. Mereka menghubungi Cosmic Region, sebuah stasiun luar angkasa simulasi di Slowakia, dan memberi tim di sana tur habitat bawah laut mereka, lengkap dengan penyelaman yang diperagakan kru di dalam air.
Di tengah semua itu, Musilova mengalami apa yang ia sebut “underview effect”. Sebagian besar astronaut melaporkan “overview effect” setelah melihat seluruh planet dari luar angkasa, yang biasanya membuat mereka semakin menghargai Bumi. Musilova merasakan hal serupa saat melihat sinar matahari menembus air: ia tidak bisa menggapainya, tetapi menikmatinya dari jauh, dan perasaan rindu itu justru menumbuhkan tekad yang lebih besar untuk menjaga planet asal mereka.
Kepulangan pun tidak bisa dilakukan sembarangan. Setelah mengenakan “baju luar angkasa” berupa perlengkapan scuba untuk terakhir kalinya, Musilova dan kru mengambil jalan memutar yang panjang mengelilingi laguna agar tubuh mereka menyesuaikan diri dengan tekanan yang lebih rendah. Meski hanya berada 22 kaki di bawah air, tetap ada risiko kecil masalah terkait dekompresi setelah hidup dalam saturasi selama beberapa waktu. Langkah terakhir adalah menembus permukaan, menghirup udara segar, dan merasakan matahari di wajah, sebelum panas Florida membuat mereka segera berteduh kembali.
Apa poin penting dari berita ini?
Komandan Dr. Michaela Musilova dan kru SEA STAR menyelesaikan misi lima hari di Jules’ Undersea Lab dekat Key Largo, Florida, pada kedalaman sekitar tujuh meter, dan resmi menjadi aquanaut setelah bertahan lebih dari 24 jam dalam kondisi saturasi. Misi ini adalah simulasi luar angkasa untuk meneliti perubahan kemampuan kognitif dan waktu reaksi di bawah tekanan, pertumbuhan benih microgreens, serta pengelolaan tekanan wadah logistik. Kru juga menguji sensor lingkungan buatan pelajar Slowakia dan melakukan kegiatan edukasi dengan stasiun simulasi di Slowakia. Kepulangan dilakukan bertahap mengelilingi laguna agar tubuh menyesuaikan diri dengan tekanan yang lebih rendah dan menghindari risiko dekompresi.


