Sunday, 1 November 2026
Nanggroe

BRA dan PEMA Siapkan SDM Aceh Tersertifikasi agar Tak Jadi Penonton di Industri Migas

Sejumlah pria duduk mengelilingi meja rapat panjang dengan dokumen dan botol air di ruang pertemuan

Badan Reintegrasi Aceh (BRA) menjajaki kolaborasi strategis dengan PT Pembangunan Aceh (PEMA) untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Aceh melalui program pelatihan dan sertifikasi kompetensi di bidang minyak dan gas bumi (migas). Penjajakan itu dilakukan dalam pertemuan di Meeting Room PT PEMA, Banda Aceh, pada Jumat, 30 Oktober 2026.

Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh Direktur Bantuan Sosial BRA, Teungku Misbahuddin, yang akrab disapa Pang Marcos, bersama sejumlah personel BRA. Dari pihak BRA, Muhammad Hatta memaparkan sasaran dan mekanisme pelatihan, Muhammad Hud menjelaskan lingkup materi pelatihan, sedangkan Ghazi menyampaikan kerangka acuan kegiatan atau Term of Reference (TOR). Kedatangan delegasi BRA diterima oleh Direktur Umum dan Keuangan PT PEMA, Lukman Age, didampingi Sekretaris Perusahaan Reza Hendra Putra dan Supervisor Divisi Minyak, Gas, dan Energi (MME), Faukas.

Dalam pertemuan itu, Misbahuddin menyampaikan pentingnya membangun kolaborasi agar masyarakat Aceh memiliki akses peningkatan kapasitas yang sesuai dengan kebutuhan industri migas. Ia menegaskan bahwa percepatan aktivitas eksplorasi dan eksploitasi migas di Aceh harus diimbangi dengan kesiapan SDM lokal yang memadai, sebab kekayaan sumber daya alam yang melimpah tidak akan memberikan dampak optimal bagi kesejahteraan daerah apabila talenta lokal tidak dibekali lisensi profesi yang diakui standar industri perminyakan.

“Jangan sampai sumber daya alam Aceh berkembang, tetapi masyarakat Aceh hanya menjadi penonton. Kita ingin anak-anak Aceh memiliki kemampuan, keterampilan, dan sertifikasi yang dibutuhkan agar dapat bersaing serta memperoleh kesempatan kerja di sektor migas,” ujar Misbahuddin dalam pertemuan tersebut.

Misbahuddin juga menekankan bahwa program pelatihan yang dirancang BRA tidak boleh sekadar menjadi kegiatan seremonial atau hanya menghasilkan peserta yang memiliki sertifikat keikutsertaan. Orientasi kurikulum, menurut dia, wajib dikalibrasi secara presisi dengan kebutuhan teknis yang dicari oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) maupun korporasi penunjang operasional migas di lapangan. Tolok ukur keberhasilannya bukan sebatas terlaksananya kegiatan, melainkan lahirnya tenaga kerja Aceh yang benar-benar kompeten dan tersertifikasi, sehingga memiliki bekal nyata untuk diserap dunia industri.

Pihak PT PEMA menyambut baik usulan kolaborasi tersebut. Perusahaan menyatakan kesiapan mendukung program mulai dari pelaksanaan pelatihan hingga sertifikasi dengan memanfaatkan dana tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Berdasarkan hasil pertemuan, PT PEMA memberikan ruang kepada BRA untuk menyusun proposal kegiatan dan TOR sebagai dasar pembahasan lebih lanjut, dan dokumen tersebut selanjutnya akan diverifikasi oleh jajaran direksi PT PEMA sebelum program ditetapkan untuk dilaksanakan.

Kedua pihak juga akan membahas spesifikasi peserta dan tenaga pelatih dengan mengacu pada ketentuan serta peraturan yang berlaku. Apabila program belum dapat direalisasikan dalam tahun anggaran 2026, pelaksanaannya akan diupayakan masuk dalam rencana kerja tahun anggaran berikutnya. Pertemuan itu ditutup dengan kesepakatan untuk melanjutkan pembahasan menuju cetak biru program vokasi yang berkelanjutan bagi tenaga kerja Aceh di sektor migas.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Badan Reintegrasi Aceh (BRA) menjajaki kolaborasi dengan PT Pembangunan Aceh (PEMA) untuk pelatihan dan sertifikasi kompetensi di bidang migas.
  • Pertemuan berlangsung di Meeting Room PT PEMA, Banda Aceh, pada Jumat, 30 Oktober 2026, dipimpin Direktur Bantuan Sosial BRA Teungku Misbahuddin alias Pang Marcos.
  • Program ini bertujuan agar masyarakat Aceh tidak hanya menjadi penonton di tengah percepatan aktivitas eksplorasi dan eksploitasi migas.
  • Pelatihan ditekankan tidak boleh sekadar seremonial, melainkan harus menghasilkan tenaga kerja yang benar-benar kompeten dan tersertifikasi sesuai kebutuhan industri.
  • PT PEMA menyatakan kesiapan mendukung program dari pelatihan hingga sertifikasi melalui dana CSR, dengan proposal dan TOR dari BRA yang akan diverifikasi direksi sebelum program ditetapkan.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *