ACEH UTARA — Sebanyak 12 jembatan gantung dan rangka baja di Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, putus total saat banjir besar melanda pada 25 November 2025. Hampir setahun berlalu, warga dari empat gampong masih bergantung pada jembatan kayu darurat yang dibangun secara swadaya sebagai satu-satunya jalur penyeberangan Krueng Sawang.
Kisah itu dijalani setiap hari oleh Syifa Akmalia (17), pelajar kelas tiga SMA Negeri 1 Sawang asal Gampong Lhok Cut. Pada 12 Oktober 2026, hujan deras mengguyur Sawang hingga debit Krueng Sawang naik signifikan, dan langkah Syifa menuju sekolah sempat terhenti karena jembatan kayu darurat harus dibongkar pasang agar tidak hanyut terbawa arus.
Jembatan darurat tersebut menghubungkan Gampong Lhok Cut, Gunci, Blang Cut, dan Kubu. Saat debit air normal, kedalamannya sekitar 30 sampai 40 sentimeter, tetapi ketika hujan deras debitnya bisa mencapai satu setengah meter. Warga yang melintas harus antre satu per satu, sebagian berjalan kaki dan sebagian memakai sepeda motor, dibantu pemuda yang siaga di jembatan.
Sebelum memakai jembatan kayu, warga sempat mengandalkan perahu karet atau getek selama sekitar delapan bulan. Sarana itu dihentikan karena kerap menimbulkan kecelakaan dan membuat penumpangnya jatuh ke air. Polres Lhokseumawe kemudian sempat membangun jembatan Bailey di lokasi yang sama, tetapi jembatan itu ambruk kembali karena tanah tergerus debit air dan arus sungai yang tinggi.
Dampaknya langsung terasa di dunia pendidikan. Kepala SMAN 1 Sawang, Faisal, menyebutkan sekolahnya memiliki 411 siswa, dan sekitar 50 persen di antaranya menghadapi kendala menyeberangi sungai. Sebagian siswa terlambat tiba di sekolah, sebagian lagi terpaksa tidak masuk sampai dua hari ketika debit air tinggi. Bila kondisi membahayakan, guru memberi materi secara daring atau memulangkan siswa lebih awal agar mereka tidak terjebak di seberang sungai.
Beban itu bertambah bagi keluarga Syifa. Ayahnya sedang sakit-sakitan, sementara ibunya bekerja sebagai buruh tani untuk menopang kebutuhan keluarga. Ketika menyeberang memakai sepeda motor, Syifa terkadang membayar Rp5.000 yang dipakai petugas untuk pemeliharaan kayu dan perbaikan akses. Perjalanan dari rumah ke sekolah memakan waktu hampir 30 menit melewati jalan berlumpur dan licin.
Harapan kini tertuju pada pembangunan permanen. Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi Panyang, mengatakan pemerintah pusat sudah menganggarkan pembangunan jembatan rangka baja sepanjang 170 meter di Kecamatan Sawang pada tahun ini. Proyek itu bersifat multiyears dan sedang memasuki tahap lelang, sementara jembatan Bailey yang ambruk akan dibangun ulang dengan material dan abutmen yang sudah tersedia di lokasi.
“Harapan kami, pembangunan jembatan bisa dipercepat karena masih banyak anak-anak yang ingin mencapai cita-citanya,” ujar Syifa. Bagi ribuan warga empat gampong itu, jembatan permanen bukan sekadar infrastruktur, melainkan kepastian bahwa anak-anak mereka bisa berangkat sekolah tanpa mempertaruhkan keselamatan.
Sumber: AJNN. Baca berita selengkapnya di: AJNN — Bertaruh Nyawa Menyeberangi Sungai demi Cita-cita. Foto: Siswa menyeberangi jembatan darurat di Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Foto: AJNN/Sarina.


