Wednesday, 28 October 2026
Nanggroe

Progres Huntap Penyintas Bencana Lhokseumawe Baru 7 Persen, Ditarget Rampung Desember 2026

Progres Huntap Penyintas Bencana Lhokseumawe Baru 7 Persen, Ditarget Rampung Desember 2026

Progres Huntap Penyintas Bencana Lhokseumawe Baru 7 Persen, Ditarget Rampung Desember 2026

LHOKSEUMAWE — Pembangunan 66 unit hunian tetap (huntap) bagi penyintas bencana di Kota Lhokseumawe baru mencapai sekitar tujuh persen. Proyek yang dikerjakan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) itu ditargetkan rampung pada Desember 2026, dengan seluruh unit beserta fasilitas pendukungnya selesai sesuai jadwal.

Sebanyak 56 unit huntap dibangun di Desa Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu, sedangkan 10 unit lainnya berdiri di Desa Cut Mamplam, Kecamatan Muara Dua. Project Manager PT Sarjis Agung Indrajaya, Muhammad Syahril, menyampaikan progres tersebut pada Ahad, 25 Oktober 2026, di sela peninjauan pekerjaan di lapangan.

Syahril menjelaskan, pengerjaan huntap sudah berjalan sekitar satu bulan. Agar target Desember 2026 tercapai, pihaknya menyiapkan penambahan tenaga kerja dan sistem kerja lembur pada malam hari. Saat ini terdapat tiga tim yang bekerja di lokasi, masing-masing beranggotakan sekitar 10 orang. Setelah tahap instalasi terpasang, setiap tim direncanakan diperkuat hingga 20 orang.

Penjadwalan kerja juga menyesuaikan kearifan lokal. Syahril menyebut aktivitas pekerjaan pada hari Jumat tidak dapat berjalan maksimal, sehingga lembur malam menjadi cara untuk mengoptimalkan waktu pengerjaan yang tersedia.

Nilai kontrak proyek ini mencapai Rp15.220.489.000 yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun anggaran 2026. Bahan bangunan diproduksi di workshop di Binjai, Sumatera Utara, lalu dikirim ke Lhokseumawe sesuai standar yang ditentukan.

Setiap huntap dibangun dengan tipe 3 x 6 meter. Syahril menilai lokasi pembangunan relatif aman dari ancaman banjir maupun longsor, dan berharap hunian tersebut layak serta aman ditempati para penyintas bencana.

Selain rumah, kawasan huntap juga akan dilengkapi fasilitas pendukung, meliputi jalan lingkungan, lampu penerangan, balai warga, drainase, dan sarana air bersih. Kehadiran fasilitas itu penting agar kawasan hunian baru tidak hanya sekadar tempat berteduh, tetapi menjadi lingkungan tempat tinggal yang berfungsi penuh bagi keluarga penyintas.

Bagi penyintas bencana, kecepatan penyelesaian huntap menjadi penanda penting pemulihan. Hunian tetap berarti mereka tidak lagi lama bertahan di hunian sementara, dan dapat kembali menata kehidupan keluarga, pekerjaan, serta pendidikan anak dengan lebih pasti. Karena itu, janji penambahan pekerja dan kerja lembur akan diuji pada progres berikutnya menjelang tenggat Desember 2026.

Sumber: AJNN. Artikel ini ditulis ulang dari laporan AJNN. Baca laporan aslinya di: Progres Pembangunan Huntap Penyintas Bencana di Lhokseumawe Baru Tujuh Persen.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *