Banjir yang melanda tiga gampong di Kabupaten Aceh Selatan sejak 28 Oktober hingga 1 November 2026 berdampak pada 794 jiwa dari 222 kepala keluarga (KK). Sebanyak 196 warga terpaksa mengungsi karena rumah mereka terendam air, menurut laporan terbaru Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) pada Selasa, 3 November 2026 pukul 11.22 WIB.
Tiga gampong yang terdampak adalah Gampong Lhok Raya dan Cot Bayu di Kecamatan Trumon Tengah, serta Gampong Padang Harapan di Kecamatan Trumon. Dari jumlah pengungsi, 124 jiwa dari 37 KK berasal dari Lhok Raya, dan 72 jiwa dari 18 KK berasal dari Cot Bayu. Sementara itu, warga terdampak di Padang Harapan masih bertahan di rumah masing-masing.
Banjir dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Aceh Selatan. Curah hujan itu membuat Sungai Lae Soraya dan Krueng Trumon Raya meluap hingga menggenangi sejumlah permukiman warga. Ketinggian air di permukiman dilaporkan mencapai 15 hingga 45 sentimeter, sedangkan badan jalan tergenang setinggi 20 hingga 60 sentimeter.
Genangan tersebut mengganggu aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Selain menghambat mobilitas, kebun dan lahan pertanian warga juga berpotensi terdampak apabila debit air sungai terus meningkat.
Dalam laporan BPBA, kondisi air di sejumlah wilayah mulai berangsur surut. Namun, beberapa rumah warga masih terendam. Di Gampong Cot Bayu, ketinggian air di rumah warga masih berkisar 30 hingga 60 sentimeter, sedangkan di Padang Harapan genangan di rumah warga mencapai sekitar 45 sentimeter.
BPBD Kabupaten Aceh Selatan telah mengerahkan personel Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar PB) serta Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk melakukan pemantauan dan asesmen di lokasi banjir. Petugas juga berkoordinasi dengan unsur musyawarah pimpinan kecamatan (Muspika) setempat untuk mendata masyarakat terdampak.
Selain itu, Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Aceh Selatan terus menerima dan menyusun laporan kejadian, sekaligus memantau perkembangan ketinggian air dan kondisi masyarakat di lapangan.
BPBA menyatakan pemantauan terhadap perkembangan banjir masih terus dilakukan. Dalam laporan tersebut, tidak terdapat korban jiwa akibat kejadian ini. Meski air mulai surut, masyarakat tetap diimbau waspada terhadap kemungkinan genangan kembali, apabila hujan berintensitas tinggi turun lagi dan debit sungai meningkat.
Peristiwa di Trumon ini menjadi pengingat bahwa musim hujan di Aceh menuntut kesiapsiagaan berlapis: pemantauan sungai, pendataan pengungsi yang cepat, dan kesiapan dapur umum serta tempat pengungsian. Ketika air sudah surut, pekerjaan belum selesai — pembersihan rumah, pemulihan lahan pertanian, dan pendataan kerugian warga masih harus berjalan.
Apa poin penting dari berita ini?
- Banjir di tiga gampong Aceh Selatan pada 28 Oktober–1 November 2026 berdampak pada 794 jiwa dari 222 KK.
- Sebanyak 196 warga mengungsi: 124 jiwa dari Lhok Raya dan 72 jiwa dari Cot Bayu; warga Padang Harapan bertahan di rumah.
- Penyebabnya adalah hujan intensitas tinggi yang membuat Sungai Lae Soraya dan Krueng Trumon Raya meluap.
- Ketinggian air di permukiman mencapai 15–45 sentimeter, dan di jalan 20–60 sentimeter; di Cot Bayu rumah warga masih tergenang 30–60 sentimeter.
- BPBD Aceh Selatan mengerahkan Damkar PB dan Tim Reaksi Cepat, berkoordinasi dengan Muspika untuk pendataan.
- Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, namun warga diimbau tetap waspada terhadap genangan susulan.


