Monday, 2 November 2026
Ekonomi

Prasasti Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh di Atas 5 Persen pada Triwulan III 2026

Sejumlah pekerja berhelm oranye bekerja di menara transmisi listrik di tengah kawasan hijau

Prasasti Center for Policy Studies memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2026 berada di atas 5 persen. Proyeksi itu disampaikan oleh Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah, menjelang publikasi data resmi pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga tahun ini.

Apa yang diproyeksikan, siapa yang menyampaikan, dan kapan perkiraannya muncul? Prasasti memperkirakan laju ekonomi Indonesia pada periode Juli hingga September 2026 tetap kokoh di atas level 5 persen secara tahunan. Proyeksi tersebut menjadi salah satu perkiraan awal yang beredar sebelum Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka resmi produk domestik bruto (PDB) triwulan III 2026.

Mengapa proyeksi di atas 5 persen itu penting? Pertumbuhan di atas 5 persen selama ini menjadi penanda ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Ketika ekonomi tumbuh di atas level tersebut, artinya aktivitas produksi, konsumsi, dan investasi secara keseluruhan masih bergerak maju, bukan sekadar bertahan. Bagi pemerintah, angka itu juga menjadi rujukan untuk menilai apakah stimulus dan belanja negara bekerja sesuai sasaran.

Sebagai konteks, ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tercatat tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Pemerintah pun sempat menyampaikan optimisme bahwa pertumbuhan pada triwulan II 2026 tetap berada di atas 5 persen, dengan investasi sebagai salah satu motor utama. Sementara itu, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada pada kisaran 4,9 hingga 5,7 persen, dan Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan 5,1 persen untuk 2026 dan 2027 dalam laporan World Economic Outlook edisi Oktober 2026.

Bagaimana cara membaca proyeksi seperti ini? Proyeksi lembaga kajian bukan angka resmi, melainkan perkiraan berbasis indikator yang tersedia, seperti penjualan ritel, realisasi investasi, belanja pemerintah, dan kinerja ekspor-impor. Karena itu, proyeksi bisa berbeda antarlembaga, dan angka final tetap menunggu rilis BPS. Perbedaan itu wajar, sebab setiap lembaga memakai asumsi dan bobot indikator yang tidak selalu sama.

Ke depan, yang perlu diperhatikan bukan hanya apakah angka triwulan III menembus 5 persen, melainkan kualitas pertumbuhannya: apakah konsumsi rumah tangga membaik, apakah investasi terserap ke sektor produktif, dan apakah lapangan kerja ikut bertambah. Pertumbuhan yang disertai daya beli yang terjaga dan investasi yang merata akan terasa lebih nyata bagi masyarakat dibandingkan pertumbuhan yang hanya ditopang satu sektor.

Proyeksi Prasasti ini sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga momentum pertumbuhan membutuhkan kombinasi kebijakan yang konsisten, dari sisi fiskal, moneter, hingga perbaikan iklim usaha. Jika momentum itu terjaga hingga akhir tahun, target pertumbuhan tahunan Indonesia berpeluang tercapai tanpa mengorbankan stabilitas harga dan nilai tukar.

Apa poin penting dari berita ini?

  • Prasasti Center for Policy Studies memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh di atas 5 persen pada triwulan III 2026.
  • Proyeksi itu disampaikan oleh Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, sebelum rilis resmi BPS.
  • Sebagai konteks, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan I 2026, dan Bank Indonesia memproyeksikan 4,9 hingga 5,7 persen untuk sepanjang 2026.
  • IMF memperkirakan pertumbuhan Indonesia 5,1 persen pada 2026 dan 2027 dalam laporan World Economic Outlook Oktober 2026.
  • Proyeksi lembaga kajian bersifat perkiraan awal; angka final tetap menunggu publikasi resmi BPS.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *