Wednesday, 28 October 2026
Nanggroe

GeRAK Aceh Perkuat Ketahanan Iklim Berbasis Komunitas di Aceh Barat Daya

Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh menggelar lokakarya ketahanan iklim berbasis komunitas di Jambo Tani, Gampong Suak Nibong, Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten Aceh Barat Daya. Kegiatan bertema integrasi pengetahuan lokal untuk mitigasi dampak iklim ini menjadi ruang bagi warga, pemerintah daerah, dan pegiat lingkungan untuk merumuskan langkah bersama menghadapi perubahan iklim dari tingkat gampong.

Lokakarya tersebut dihadiri Manajer Program GeRAK Aceh, Fernan, bersama sejumlah narasumber, antara lain Yosia Ginting dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Dewi Marlina selaku Staf Ahli Bidang Perekonomian Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya, dan praktisi Adami Usman. Kehadiran berbagai pihak itu menegaskan bahwa ketahanan iklim tidak bisa dikerjakan satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi antara komunitas, pemerintah, dan lembaga konservasi.

Mengapa pendekatan berbasis komunitas dipilih? Karena warga di sekitar kawasan penyangga hutan dan lahan pertanian adalah pihak yang pertama merasakan dampak perubahan iklim, mulai dari musim yang bergeser, kekeringan, hingga tekanan terhadap keanekaragaman hayati. Pengetahuan lokal yang selama ini dipraktikkan warga dinilai penting untuk diakui, didukung kebijakan, dan dibuka akses pendanaannya, agar praktik baik di tingkat komunitas tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat.

Dalam lokakarya itu, peserta mendalami upaya konservasi Gunung Leuser dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati di sekitarnya. Materi tersebut relevan bagi Aceh Barat Daya, yang wilayahnya bersinggungan dengan bentang alam Leuser, sehingga perlindungan hutan dan satwa tidak bisa dilepaskan dari kehidupan warga yang tinggal di sekitarnya.

Peserta juga mempraktikkan pengolahan sampah organik menjadi ekoenzim, yang kemudian diolah menjadi cairan pembersih rumah tangga atau ekokarbol. Praktik ini menunjukkan bahwa persoalan sampah rumah tangga dapat diubah menjadi produk bermanfaat, sekaligus mengurangi beban lingkungan bila dikelola secara konsisten di tingkat keluarga dan komunitas.

Selain itu, lokakarya membahas pertanian cerdas iklim melalui penggunaan pupuk organik cair dan pestisida nabati. Pendekatan ini dimaksudkan untuk menjaga kesuburan tanah dan menekan ketergantungan pada bahan kimia, sehingga usaha tani warga tetap berjalan di tengah cuaca yang semakin tidak menentu.

Bagaimana hasil lokakarya ini ditindaklanjuti? Menurut Fernan, hasil diskusi akan dihimpun menjadi rekomendasi bersama untuk Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya, Pemerintah Aceh, dan Pemerintah Indonesia. Rekomendasi itu merupakan hasil penghimpunan aspirasi dan kebutuhan komunitas, yang diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan, program, dan dukungan pendanaan bagi penguatan resiliensi iklim berbasis masyarakat.

Dengan demikian, lokakarya ini tidak hanya berhenti pada penyampaian materi. Ia menjadi jembatan antara pengalaman warga di lapangan dan kebijakan publik, agar ketahanan iklim benar-benar tumbuh dari komunitas, bukan sekadar program dari atas ke bawah.

Apa poin penting dari berita ini?

  • GeRAK Aceh menggelar lokakarya ketahanan iklim berbasis komunitas di Jambo Tani, Gampong Suak Nibong, Kecamatan Tangan-Tangan, Aceh Barat Daya.
  • Kegiatan ini menghadirkan Manajer Program GeRAK Aceh, Fernan, serta narasumber dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya, dan kalangan praktisi.
  • Peserta mendalami konservasi Gunung Leuser, pengolahan sampah organik menjadi ekoenzim dan ekokarbol, serta pertanian cerdas iklim dengan pupuk organik cair dan pestisida nabati.
  • Hasil lokakarya akan dihimpun menjadi rekomendasi bersama untuk pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat.

vbgnb

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *